Rabu, 25 Juni 2014

Milik Siapa Persib

Milik Siapa Persib

Direktur PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), M. Farhan, mengatakan, kerugian perusahaan payung skuad Persib Bandung terus menurun sejak berdiri tiga tahun lalu. Ia pun menjanjikan PT Persib bakal mulai menangguk keuntungan mulai akhir tahun ini.

Tercatat pada tahun 2009 kami masih rugi Rp 18 miliar, tapi pada 2010, kerugian turun jadi 16 miliar. "Tahun lalu kami kerugian turun lagi jadi Rp 8 miliar,"ujarnya saat jumpa pers di markas PT Persib, di Jalan Sulanjana, Kota Bandung, Senin 12 Maret 2012. 

Melihat data tersebut, Farhan yakin mulai September nanti Persib bisa mereguk keuntungan. Hingga kini skuad Persib tetap diminati perusahaan sponsor. Buktinya adalah Persib disokong sedikitnya tujuh sponsor besar antara lain PT Wiraswasta Gemilang Indonesia selaku produsen oli mesin sepeda motor Evalube, PT Daya Adira Mustika (Daya) selaku dealer utama sepeda motor Honda di Jawa Barat.

Selain itu, perusahaan ban sepeda motor merek Corsa dan perusahaan perlengkapan olahraga Mitre. Juga Equator Capital, Permata Resources, dan PT Surya Eka Perkasa. "Kami sekarang juga tengah menjajagi kontrak baru dengan perusahaan calon sponsor Persib tahun 2012/2013,"ujar Farhan.

Untuk saham, PT Persib Bandung Bermartabat tercatat dimiliki oleh 6 pihak. Mereka terdiri 5 individu dan 1 badan hukum. Kelima orang pemilik pribadi saham PT Persib adalah manajer tim Persib dan pengusaha Umuh Muhtar, pengacara Kuswara S. Taryono, eks Panglima Kodam III Siliwangi Zainuri Hasyim, eks Ketua Kadin Jawa Barat Iwan Dermawan, dan eks bos Harian Pikiran Rakyat Yoyo Adisuredja.

Adapun badan hukum penguasa saham PT Persib adalah PT Surya Eka Perkasa, sebuah perusahaan investasi milik keluarga Thohir. PT Surya Eka dipimpin Glen Sugita, yang kini menjabat sebagai Presiden Direktur PT Persib Bandung Bermartabat. "Jadi tak ada Bakrie Brothers (perusahaan milik keluarga Bakrie) di Persib. Saya tahu betul arus kas PT Persib dan Surya Eka Perkasa, tak ada uang Bakrie di Persib, saya jamin itu," kata dia. 

Selasa, 24 Juni 2014

Pelatih Pertama Pesib

Pelatih Pertama Pesib

Dalam sejarah sepak bola Indonesia PERSIB mampu memberikan banyak kontribusi, baik dalam organisasi maupun berupa materi pemain. Pada kesebelasan Nasional yang pertama (1950), PERSIB Menyumbangkan pemain, Aang Witarsa dan Yahya. Bahkan selanjutnya bintang-bintang PERSIB menjadi pemain terkemuka PSSI, seperti Ade Dana, Rukma, Omo, Wowo, Sunarto, Wowo, Fatah Hidayat, Isak Udin, Parhim dan lain-lain. Pada kejuaraan-kejuaraan PSSI yang diselenggarakan secara periodic, PERSIB dianggap “Duta Bandung”, bahkan “Duta Masyarakat Jawa Barat”. Berkali-kali sejak pertama kali tahun 1937, PERSIB menjadi juara nasional. Karena pakaian seragamnya biru-putih, PERSIB biasa diberi gelar “Pangeran Biru”, dan karena PERSIB dianggap pejuang Bandung, oleh masyarakat sering diberi julukan “Maung Bandung”

Salah satu pelatih PERSIB yang dikenal bertangan dingin dalam menangani kesebelasan ini yang mengantarkannya menjadi juara pada beberapa kompetisi sepakbola di tingkat nasional maupun kejuaraan lainnya adalah Indra Mochamad Tohir. Indra Tohir lahir di Bandung, tepatnya di kawasaan Cigereleng Bandung Selatan pada tanggal 7 Juli 1941, dari pasangan Bapak Asik dan Ibu Omas. Suami dari Ibu Aat Ratnawati serta ayah dari 2 putera dan 1 puteri ini menyelesaikan SD serta SMPnya di Bandung. Selanjutnya Indra Tohir melanjutkan ke SGPD dan ke APD yang selanjutnya berubah nama menjadi STO/FPOK UPI. Statusnya saat ini tercatat sebagai pegawai Negeri/Dosen di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung jurusan FPOK. Penampilannya yang kalem, ditemani asap rokok kretek yang selalu mengepul dari mulutnya dan beberapa gelas kopi hitam menjadi khas penampilan keseharian pelatih yang hobi golf ini.

Prestasi “Kang Tohir” demikian dia akrab disapa, di Persib dimulai sebagai pelatih fisik dari tahun 1984. Pada tahun 1990 melatih PSSI usia 14-16tahun. Tahun 1993 dibawah kepelatihannya, PERSIB menjadi Juara Perserikatan, tahun 1994 membawa PERSIB menjadi juara Liga Indonesia pertama. Sebagai pelatih, Tohir dikenal memiliki wibawa yang besar dikalangan pemain. Dalam melatih, Tohir tidak mengistimewakan pemain bintang dan tidak pilih kasih. Sebagai pelatih ia memiliki kiat, bahwa isterinya adalah isteri yang ke-2, isteri pertama adalah kesebelasan yang dilatihnya ini. Konsekuensi dari keseriusannya dalam melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pelatih, Tohir tidak bisa meninggalkan latihan, sehingga terkesan seperti yang tidak percaya kepada asisten. Akan tetapi, dukungan isterinya dalam menjalankan tugas sebagai pelatih PERSIB cukup besar.

Menurut penuturan isterinya, KangTohir yang dikenal memiliki hobi menyanyi, Dansa, serta main golf, dulu dikenal sebagai pemain Base ball Nasional, taun ‘67an, sedangkan Ceu Aat pemain Jabar. Walaupun memiliki hobi yang lain di luar sepakbola, dirinya tahu diri kalau mau latihan.

Sebagai pelatih, Kang Tohir Pernah melatih Persikabo Bogor, yang menaikkan status kesebelasan ini ke Divisi Utama (tahun 1997). Disiplin ke anggota keluargaan. Semua puteranya mewarisi darah ayahnya dalam hal olah raga. Beberapa catatan prestasinya melatih sepakbola, membawa dirinya untuk mengunjungi beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Brunei, Philifina, Taiwan dan Perancis. Pernah pula menjadi pelatih terbaik Asia waktu PERSIB berhasil mencapai babak perempat final Liga Champions Asia (LCA) 1995 dan Pelatih terbaik versi Majalah Bola.

Terakhir Kang Tohir yang rutin main golf 1-2 dalam seminggunya ini Menyampaikan saran untuk pelatih sepakbola lainnya, bahwa dalam melatih jangan pernah menjanjikan sesuatu kepada pemain serta tidak boleh menghujat pelatih lainnya.

Kamis, 19 Juni 2014

Jersey Persib Kini Tak Muat Lagi Ditempeli Logo Sponsor

Jersey Persib Kini Tak Muat Lagi Ditempeli Logo Sponsor

BANDUNG - Jersey Persib Bandung dipastikan tak akan muat lagi untuk ditempeli logo perusahaan yang jadi sponsor. Itu karena ada satu sponsor baru yang merapat ke Persib.

Perusahaan itu adalah OCTA Market Incorporated (OCTAFX) yang merupakan jasa layanan broker internasional. OCTAFX jadi sponsor Persib hingga akhir musim ini. 

Secara simbolis, penandatanganan kerjasama Persib dan OCTAFX dilakukan di Graha Persib, Kota Bandung, Senin (24/2/2014). Sebagai kompensasinya, logo OCTAFX akan terpasang di jersey bagian lengan kiri.

"Ini sponsor ketujuh yang nempel di jersey Persib. Sudah enggak muat kalau ada logo (sponsor) lagi," ujar Direktur PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Risha Adiwijaya.

Tapi Persib tidak menutup pintu bagi perusahaan yang ingin jadi sponsor. Bahkan dalam waktu dekat diharapkan segera terjalin kesepakatan dengan sejumlah perusahaan yang akan jadi sponsor 'Maung Bandung'.

"Kita tidak menutup kemungkinan untuk sponsor nonjersey. Kompensasinya juga sedang kita susun," ucapnya.

Soal besaran nilai kerjasama, baik PT PBB maupun OCTAFX ogah untuk terbuka. "Yang jelas kalau bicara budjet, cukup sampai akhir musim," tuturnya.

CEO OCTA Market Incorporated, Pavel Prozorov, mengatakan perusahaannya baru kali ini jadi sponsor tim sepakbola. "Ini jadi salah satu investasi kami yang sangat spektakuler," ucapnya.

Ia berharap mendapat keuntungan lebih setelah jadi sponsor Persib. "Pada akhirnya kami berharap melalui kemitraan ini baik kami maupun Persib dapat mencapai kesuksesan dan bersama-sama meraih keberhasilan pada kompetisi musim ini," paparnya.




Selasa, 17 Juni 2014

Asal Mula Viking Persib Club

Asal Mula Viking Persib Club

Bermula saat sekelompok bobotoh fanatik PERSIB yang biasa“menghuni” tribun selatan mencetuskan ide untuk menjawab totalitas “sang idola” PERSIB Bandung di lapangan dengan sebuah totalitas dalam memberi dukungan, maka setelah melalui beberapa kali pertemuan yang cukup alot dan memakan waktu, akhirnya terbentuklah sebuah kesepakatan bersama. Tepatnya pada Tanggal 17 Juli 1993, disebuah rumah dibahu jalan Kancra no. 34, diikrarkanlah sebuah kelompok Bobotoh dengan nama VIKING PERSIB CLUB.. Adapun pelopor dari pendiriannya antara lain ; Ayi Beutik, Heru Joko, Dodi “Pesa” Rokhdian, Hendra Bule, dan Aris Primat dengan dihadiri oleh beberapa Pioner Viking Persib Club lainnya, yang hingga kini masih tetap aktif dalam kepengurusan Viking Persib Club. Nama VIKING diambil dari nama sebuah suku bangsa yang mendiami kawasan skandinavia di Eropa Utara. Suku bangsa tersebut dikenal dengan sifat yang keras, berani, gigih, solid, patriotis, berjiwa penakluk, pantang menyerah, serta senang menjelajah. Karakter dan semangat itulah yang mendasari “Pengadopsian” nama VIKING kedalam nama kelompok yang telah dibentuk. Secara demonstratif, Viking Persib Club pertama kali mulai menunjukan eksistensinya pada Liga Indonesia I — tahun 1993, yang digemborkan sebagai kompetisi semi professional pertama di Tanah Air kita. Slogan “PERSIB SANG PENAKLUK” begitu dominan terlihat pada salah satu atribut yang dipakai anggotanya. Viking dimasa ini masihlah sangat tradisional dan belum menunjukkan geliat sebagai sebuah organisasi yang utuh secara profesional, bahkan pada awalnya mereka tidak mempunyai homebase dan menjadikan halaman sekretariat PERSIB di Jalan gurame sebagai tempat berkumpul. Seiring waktu kehadiran mereka yang merajai tribun selatan pun mulai dikenal dan diakrabi bobotoh, banyak pula yang berminat untuk menjadi bagian dari Viking, pendaftaran anggota pun mulai dibuka lebar. 
Periode 1999-2004
Diperiode ini, Viking mengalami penambahan anggota yang cukup signifikan, bahkan karena saking banyaknya anggota maka para pimpinan Viking pun merasa bahwa tribun selatan sudah tak mampu lagi menampung jumlah anggota yang rutin menyaksikan pertandingan PERSIB secara langsung di Siliwangi, akhirnya tribun timur pun menjadi pilihan, terhitung sejak liga Indonesia VI, Viking mulai “hijrah” ke tribun timur dan menunjukkan eksistensi serta dukungan dari tribun dengan “view” yang lebih nyaman dan kapasatitas tempat duduk lebih besar.
Diperiode ini pulalah, tepatnya medio 2002-2003, Viking mengalami sebuah momentum penting saat Yudi Baduy sang sekretaris umum mulai sibuk dengan rutinitas dan pekerjaannya sehingga Viking membutuhkan darah segar untuk tetap menjaga dinamika roda organisasi, dan masuklah Budhi Bram, keterlibatannya bersama Viking dimulai saat yang bersangkutan menggarap album Kompilasi yang pertama. Seiring waktu, akhirnya Budhi Bram resmi menjabat sebagai sekretaris umum Viking yang baru.
Pada masa ini pulalah Viking yang tetap di pimpin oleh dwitunggal Herru Joko sang ketua umum dan Sang Panglima,Ayi Beutik mulai tumbuh sebagai organisasi yang sesungguhnya, seluruh potensi organisasi pun terus dioptimalkan untuk mendatangkan manfaat bagi PERSIB dan Viking sendiri. Viking dengan jumlah anggotanya yang mencapai ribuan orang mulai dilirik oleh berbagai perusahaan dan menjalin beberapa kerjasama dalam event-event besar. Tercatat berbagai perusahaan, mulai dari rokok, selular hingga clothing pernah menjalin kerjasama dengan Viking Persib Club.
lama kelamaan aksi Viking tak hanya sekedar bersorak di stadion, namun aktivitasnya mulai menyentuh berbagai aspek kehidupan, seperti bakti sosial, sunatan masal, kompetisi-kompetisi kreatif dll. Dimasa ini pulalah Viking mulai menjalin simpul-simpul signifikan dengan pihak-pihak yang strategis, seperti walikota Bandung dll.
Periode 2005-2009
Dimasa ini Viking semakin mapan dan dewasa, bahkan sisi komersil pun mulai teroptimalkan secara elegan. Lihat saja kelahiran Viking Persib fanshop yang bergerak dibisnis properti supporter, ataupun album digital dan bisnis RBT serta website resmi www.vikingpersib-club.com yang digarap oleh Viking, semakin menunjukkan ke-profesionalan organisasi ini. Jangan lupakan pula kehadiran PERSIB magz yang fenomenal dan sempat mewarnai dunia media soporter ditanah air dan berganti nama menjadi majalah
Idealisme Viking Persib Club
Viking Persib Club adalah sebuah kelompok bukanlah organisasi atau fans club dengan segala aturan-aturan formal yang mengikatnya. Setiap anggota atau Vikers adalah bagian dari sebuah “Keluarga”, …. Dan layaknya sebuah Keluarga, keberagaman sifat dan tingkah laku yang berada didalamnya adalah merupakan sesuatu hal yang lumrah, dan Viking akan selalu berusaha untuk mengakomodir keberagaman tersebut.
Kelompok Suporter dapat dikatakan sebagai kelompok sosial, karena didalamnya terdapat sekumpulan individu yang berinteraksi secara bersama-sama serta memiliki kesadaran keanggotaan yang didasarkan oleh kehendak dan prilaku yang disepakati. Seperti kebanyakan kelompok-kelompok Bobotoh lainnya yang turut terlahir sama seperti halnya Viking Persib Club, yaitu secara Grass Root (dari arus bawah), maka Viking Persib Club memiliki cara atau cirri khas dalam menyikapi setiap permasalahan anggotanya. Hubungan pertemanan dan kekeluargaan yang tulus, erat tanpa pamrih serta rasa persaudaraan yang tinggi menjadi modal yang kuat bagi VIKING untuk terus eksis selama beberapa dekade.
Keanggotaan Viking Persib Club yang semakin besar, jelas menuntut sebuah tanggung jawab serta pengaturan yang sedemikian rupa secara professional, agar dapat lebih terukur dari segi pendataan, keuangan, rutinitas maupun manajerial, yang tentu saja membawa dampak tanggung jawab yang sangat besar bagi kepengurusan Viking Persib Club. Namun tentu saja semua formalitas tersebut tidak akan menghilangkan warna, ciri khas serta karakter Viking Persib Club. “Viking tetaplah Viking! Dia harus bercirikan kedekatan yang tulus antar anggotanya dan berkarakter sebagai sebuah keluarga ataupun geng”
Viking Persib Club murni lahir secara independen berdasarkan inisiatif dari para Bobotoh dari golongan grass root. Dalam pandangan Viking, supporter tidak hanya berperan sebagai “tukang sorak” saat menyaksikan dan mendukung kesebelasan kesayangannya, tetapi peran supporter harus lebih dari itu! Dia harus menjadi pembangkit semangat saat tim kesayangannya jatuh bangun menunaikan tugasnya dilapangan. Supporter juga harus menjadi kekuatan tambahan bagi para pemain dilapangan, …… intinya, supporter harus menjadi pemain ke-12! Dan VIKING ingin menjadi pemain ke-12 bagi PERSIB.
Pada saat ini, …… ketika sepakbola sudah menjadi industri, Peranan Bobotoh buat PERSIB pun menjadi berkembang tidak hanya sebagai objek pelengkap saja. Bobotoh seharusnya menjadi bagian dari prestasi dan keberhasilan yang dicapai oleh PERSIB. Berangkat dari sana, ….. Viking Persib Club pun mulai mengembangkan sayapnya dalam berbagai bentuk aktualisasi diri, mulai dari peningkatan pengkoordiniran massa dengan dibentuknya “distrik” di berbagai wilayah pada kantung-kantung Bobotoh, Penjualan Merchandise, pembuatan album kompilasi Persib, hingga tour organizer yang menyelenggarakan pemberangkatan rombongan Bobotoh ketika mendukung PERSIB apabila bermain tandang.
Kepemimpinan & Kepengurusan Viking Persib Club
Sejak awal berdirinya hingga saat ini, ….. Viking Persib Club diketuai oleh Heru Joko, dengan Panglima — Ayi Beutik. Pertanyaan yang muncul, ……. Mengapa harus ada figur panglima? Jawabannya singkat saja, karena Bobotoh terikat secara emosional, dan mereka mengikatkan diri kepada PERSIB dan juga kepada sesama pendukung Persib. Kata Panglima disini adalah sosok “Ibu” dalam keluarga, pengasuh bagi anak-anaknya, sosok yang memimpin serta melindungi para anggota apabila terjadi sesuatu dilapangan. Sedangkan jabatan Ketua Umum yang disandang Heru Joko, adalah sebagai figure kharismatik yang memiliki fungsi politis keluar organisasi atau kelompok lain. Lain halnya dengan Yoedi Baduy yang menjabat sebagai Sekretaris Umum, ia mengelola dan mengkoordinir segala bentuk kegiatan secara administratif. Bisa dikatakan ketiganya adalah pemimpin atau leader Viking Persib Club, yang tentu saja ditopang oleh pentolan-pentolan Viking Persib Club yang lainnya, seperti ; Yana Ewok, Asep “Ucok”, Yana Bool (Mr. Y), Dadan Gareng, Boseng, Odoy, Pesa dan Hendra Bule.
Dan yang tak kalah pentingnya lagi, …… kontribusi Distrik-distrik Viking Persib Club yang saat ini sudah tersebar diberbagai wilayah , seolah menjadi elemen penting lainnya bagi pendobrak berkembangnya Viking Persib Club dewasa ini.
obatpelangsingherbaltanpaefeksamping.wordpress.com obatherbalpelangsingperutbuncit.wordpress.com obatpelangsingperutyangalami.wordpress.com obattradisionaluntukdiet.wordpress.com obatpelangsingbadanherball.wordpress.com

Senin, 16 Juni 2014

ASAL MUASAL PERMUSUHAN VIKING & THE JAK

ASAL MUASAL PERMUSUHAN VIKING & THE JAK


Asal Mula Perseteruan Viking vs The jack
Banyak yang tidak tahu dan bertanya, bagaimana sebenarnya permusuhan Viking dengan the jak bermula. Mengapa timbul rasa benci dalam benak masing-masing dari mereka. Hingga kini, keduanya masih saja berseteru. Bahkan semakin meruncing.
 
Penyebabnya sepele dan manusiawi, rasa iri. Iri hati dan sirik inilah yang membuat keduanya bermusuhan. Rentang waktu 1985 hingga 1995 adalah masa keemasan Persib. Sementara Viking yang berdiri tahun 1993 begitu setia mendukung klub kebanggaan warga Jawa Barat itu. Dimanapun Persib bermain, disana pasti ada Viking. Termasuk jika bermain di Jakarta. Semua menjadi lautan biru.
 
Inilah yang membuat anak muda ibukota iri. Selain kejayaan Persib kala itu, kesetiaan Viking membuat hati mereka panas. Saat itu muda-mudi betawi baru mampu membentuk kolompok kecil bernama Persija Fans Club. Walaupun begitu, kebesarkepalaan mereka sudah sangat menjadi. Hingga terjadilah insiden di stadion Menteng. Saat Persija menjamu Maung Bandung pada Liga Indonesia ke-2. Viking membirukan Ibukota dengan sekitar 9000 anggotanya. Sementara Persija Fans Club hanya berjumlah tak lebih dari 1000 orang. Rupanya bocah-bocah betawi itu tak rela kandangnya dikuasai supporter kota lain. Mereka pun membuat ulah. Seakan lupa jumlah mereka tak lebih dari 10% anak-anak Bandung. Hingga akhirnya, mereka mendapatkan akibatnya. Dengan kuantitas yang hanya satu tribun VIP, lemparan batu diarahkan Viking pada lokasi mereka menonton. Dan itu dilakukan Viking di Jakarta. Hal yang tidak berani dilakukan bocah Jakarta di Kota Kembang.
 
Singkat cerita, pada tahun 1997, muda-mudi ibukota ikut-ikutan membentuk perkumpulan supporter. Mereka menamakannya the jakmania.
 
Kebodohan the jak terekspos keseluruh negeri ketika mereka tak berdaya menghadapi Viking dalam kuis Siapa Berani. Kuis yang menguji wawasan dan kemampuan berpikir. Itu merupakan edisi khusus kuis Siapa Berani, edisi supporter sepak bola. Menghadirkan Viking, the jak, Pasoepati (Solo), Aremania, dan ASI (Asosiasi Suporter Indonesia). Pemenangnya, Viking. Perwakilan Viking berhasil melewati babak bonus dan berhak atas uang tunai 10 juta rupiah.
 
Seperti biasanya, rasa iri dari the jak muncul. Malu dikalahkan di kotanya sendiri, ketua the jak saat itu, Ferry Indra Syarif memukul Ali, seorang Viker yang menjadi pemenang kuis. Sungguh perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang ketua. Ketuanya saja begitu, apalagi anak buahnya?
 
Kejadian itu terjadi di kantin Indosiar, ketika dilangsungkannya acara pemberian hadiah. Kontan keributan sempat terjadi, namun berhasil diatasi.
 
Kesirikan the jak tak sampai disitu. Mereka menghadang rombongan Viking dalam perjalanan pulang menuju Bandung, tepatnya di pintu tol Tomang. Anak-anak Bandung yang berjumlah 60 orang pulang dengan menggunakan dua mobil Mitsubishi Colt milik Indosiar dan satu mobil Dalmas milik kepolisian. Ketiga mobil ini dihadang sebuah Carry abu-abu. Dua lolos, namun nahas bagi salah satu Mitsubishi Colt yang ditumpangi para anggota Viking. Mobil itu terperangkap gerombolan the jak. Kontan, mobil dirusak, Viking disiksa, dan uang para pendukung pangeran biru itu pun dijarah. Termasuk handphone dan dompet mereka.
 
Tercatat sembilan anggota Viking mengalami luka-luka. Tiga diantaranya terluka parah. Namun sayang, pihak kepolisian lamban dalam menyelesaikan kasus ini. Termasuk dalam menangkap the jak yang merampok dan menganiaya anggota Viking Persib Club.
 
Hingga saat ini perseteruan kedua kelompok supporter itu masih terus berlanjut. Viking, yang bersahabat karib dengan klub penggemar sepak bola lainnya ( Bonek, Sakera, Blue Devil, The Lobster, Persikmania, Kampak FC,dll. ) tidak akan pernah berbesar kepala. Viking akan menjaga persahabatan itu sampai kapanpun. Persija pun iri dan ingin menggoyahkan persahabatan ini. Tapi Persija tidak berhasil. Sampai kapanpun kita akan satu...olisian lamban dalam menyelesaikan kasus ini. Termasuk dalam menangkap the jak yang merampok dan menganiaya anggota Viking Persib Club.
 
Melihat sejarah, VIKING dan BONEK adalah pendukung sejati dari klub perserikatan yang sudah menjadi musuh bebuyutan dari sejak jaman perserikatan, yaitu PERSIB dan PERSEBAYA. Dilihat dari kacamata awam, tidak mungkin pendukung sejati yang berani mati demi mendukung timnya bisa bersahabat bahkan bersaudara dengan pendukung sejati yang sama-sama berani mati demi mendukung tim musuh bebuyutan. Tetapi ternyata VIKING dan BONEK membuktikan bahwa mereka bisa. Persaudaraan mereka dilandasi perasaan senasib dimana mereka selalu dijadikan bahan hujatan dan pendiskreditan dari masyarakat sepakbola nasional. Bahkan pers nasional pun paling senang apabila ada kerusuhan di partai yang melibatkan PERSIB atau PERSEBAYA karena bisa dijadikan headline dan sudah jelas pihak mana yang akan disalahkan.
 
Sejak dulu VIKING dan BONEK diidentikkan dengan kerusuhan. Istilahnya dimana ada pertandingan yang ditonton oleh VIKING atau BONEK maka akan terjadi kerusuhan. Hal-hal jelek dan bersifat mendiskreditkan itulah yang lebih sering diekspos oleh media massa nasional. Padahal tidak semua kegiatan atau kelakuan VIKING dan BONEK berujung pada kerusuhan. Dan tidak semua kerusuhan itu diakibatkan oleh mereka. Mereka hanyalah kaum tertindas yang selalu dipersalahkan karena dosa-dosa di masa lalu. Sangat jarang sekali (atau bahkan tidak pernah?) media massa nasional memberitakan kegiatan positif yang VIKING atau BONEK lakukan. Sangat jauh berbeda dengan pemberitaan media massa nasional tentang pendukung tim lain. Ketika terjadi kerusuhan yang melibatkan mereka hanya ditulis sedikit (atau bahkan tidak ditulis sama sekali?) dan ditutupi dengan kata-kata “oknum yang mengatasnamakan pendukung…”. What a bullshit! Sedangkan ketika melakukan kegiatan positif, media massa nasional langsung memberitakan secara besar-besaran, sebesar berita kerusuhan yang melibatkan VIKING atau BONEK. Bahkan saking terlalu seringnya pemberitaan yang memojokkan VIKING sebagai bobotoh PERSIB, bobotoh lain yang bukan anggota VIKINGpun menjadi antipati terhadap media massa nasional. Sampai ada jargon di kalangan bobotoh bahwa “PERSIB besar bukan karena pemberitaan media massa nasional, PERSIB besar karena bobotoh dan prestasi. PERSIB dan bobotoh tidak membutuhkan media massa nasional untuk menjadi besar. Media massa nasional-lah yang membutuhkan PERSIB untuk menjadi besar dan terkenal”.
 
Hal itulah yang mungkin menjadi salah satu penyebab munculnya perasaan senasib dan berkembang menjadi ikatan persaudaraan, selain tentunya kerusuhan di Jakarta dimana BONEK yang hendak mendukung PERSEBAYA di Senayan diserang oleh sepasukan organisasi masyarakat (?), yang tidak usah saya sebutkan disini karena semua juga sudah tau, dan kemudian diselamatkan oleh beberapa bobotoh (anggota VIKING) yang kebetulan sedang ada disana. Juga ketika PERSIB melawat ke Surabaya, dimana anggota VIKING yang mendukung PERSIB di sana dijamu sangat baik oleh BONEK. Demikian pula ketika PERSEBAYA yang bertanding di Bandung, giliran BONEK yang dijamu sangat baik oleh VIKING.
Indahnya persaudaraan diantara dua kubu suporter TERBESAR di Indonesia itu. Jadi saat ini BONEK bukan hanya berarti BONDO NEKAT, tapi bisa juga berarti BOBOTOH NEKAD.

 

Kamis, 12 Juni 2014

Persib Baheula

Persib Baheula

SEPANJANG sejarah perjalanan Persib Bandung sejak dilahirkan pada 14 Maret 1933, tim kebanggaan masyarakat Jawa Barat itu pernah enam kali mengecap manisnya gelar juara. Di era Kompetisi Perserikatan, Persib lima kali tampil sebagai kampiun pada tahun 1937, 1961, 1986, 1990, dan 1994. Ketika kompetisi di Indonesia memasuki era semiprofesional, Persib masih bisa berbicara banyak. Dengan mengandalkan pemain binaannya sendiri, Persib tampil sebagai yang terbaik di Liga Indonesia (LI) I/1994-1995.

Tahun 1937

Ketika itu, usia Persib belum genap empat tahun sejak didirikan pada tahun 1933. Namun, Persib bisa langsung unjuk gigi di kancah sepak bola nasional. Setelah hanya mampu menjadi runner-up pada kompetisi 1933, 1934, dan 1936, untuk pertama kalinya Persib tampil sebagai juara pada tahun 1937.

Sejarah emas yang ditorehkan Persib itu terjadi setelah pada pertandingan final menjungkalkan raksasa sepak bola Indonesia saat itu, Persis Solo, 2-1 di Stadion Sriwedari Solo. Sayang, tidak ditemukan catatan tim mana saja yang mengikuti kompetisi pada tahun itu.

Namun, R. Ading Affandi (RAF) dalam Lintasan Sejarah Persib, mencatat PSIM Yogyakarta (juara 1932) dan VIJ Jakarta (juara 1933, 1934) sebagai tim yang paling disegani Persis ketika itu. Dari sumber lain ditemukan, PSIT Cirebon juga menjadi peserta dan berhasil merebut posisi ketiga kompetisi tahun itu.

Materi pemain Persib yang tercatat ketika itu antara lain Jasin, Arifin, Kucid, Edang, Ibrahim Iskandar, Saban, Sugondo, Adang. Berkat gelar juara yang diraihnya itu, seluruh pemain Persib masing-masing mendapatkan uang saku sebesar F 2,50 (seringgit, dua rupiah, lima puluh sen).

Tahun 1961

Setelah kembali menjadi runner-up pada tahun 1950 dan 1959, karena kalah bersaing dengan PSM Makassar, Persib akhirnya kembali tampil sebagai kampiun pada tahun 1961. Pada putaran final yang menggunakan sistem setengah kompetisi dan setiap peserta mendapat jatah jadi tuan rumah, Sunarto dan kawan-kawan menyingkirkan enam rivalnya, PSM Makassar, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, PSMS Medan, PSIS Semarang, dan Persema Malang.

Ketika itu, skuad Persib dihuni oleh pemain-pemain macam Simon Hehanusa, Hermanus, Djudju Sukandar (penjaga gawang), Ishak Udin, Iljas Hadade, Rukma Sudjana, Fatah Hidayat, Sunarto, Him Tjhiang, Kwee Kiat Sek, Ade Dana, Hengki Timisela, Wowo Sunaryo, Nazar, Omo Suratmo, Suhendar, Pietje, dan Hengky Timisela.

Gelar juara Persib ditentukan pada partai terakhir ketika mengalahkan Persija 3-1 di Semarang, 31 Juni 1961. Tiga gol penentu kemenangan Persib dicetak Wowo Sunaryo pada menit 12 dan 20, serta Hengky Timisela pada menit 23.

Tahun 1986

Setelah terpuruk pada dekade ‘70-an dan sempat terlempar dari kelompok elite Kompetisi Perserikatan pada tahun 1978, Persib langsung melakukan konsolidasi ke dalam. Pembinaan pemain muda berbakat secara konsisten dan berkesinambungan dilakukan pada awal dekade ‘80-an. Untuk menempa para pemain berbakat ini, Ketua Umum Persib, Solihin G.P. mendatangkan pelatih asal Polandia, Marek Janota.

Setelah dua tahun berjalan, pembinaan pemain muda yang dilakukan Persib mulai membuahkan hasil. Dengan ciri khas sepak bola indahnya, Persib kembali menjelma menjadi salah satu tim yang disegani. Sayang, pada musim 1982/1983 dan 1984/1985, Persib belum mampu tampil sebagai juara. Adeng Hudaya dan kawan-kawan dua kali kandas di final setelah dikalahkan PSMS Medan melalui drama adu penalti.

“Nista, maja, utama”. Itulah kalimat yang terucap dari mulut H. Ateng Wahyudi, Ketua Umum Persib baru yang menggantikan Solihin G.P., begitu Persib akan tampil di Kompetisi Perserikatan 1985/1986. Kalimat tersebut ternyata sangat mujarab. Setelah dua kali gagal di final pada musim sebelumnya, kali ini Persib berhasil memboyong Piala Presiden ke Bandung, setelah menumbangkan Perseman Manokwari 1-0 pada pertandingan final di Stadion Utama Senayan Jakarta. Gol tunggal Persib pada partai final dicetak Djadjang Nurdjaman.

Materi pemain yang mengantarkan Persib menjadi juara pada tahun 1986 itu tidak lain generasi emas hasil binaan sejak awal dekade ‘80-an. Mereka adalah Sobur, Boyke Adam (penjaga gawang), Wawan Hermawan, Wawan Karnawan, Ade Mulyono, Suryamin, Ujang Mulyana, Sarjono, Adeng Hudaya, Robby Darwis, Yoce Roni, Kornelis, Ajid Hermawan, Ajat Sudrajat, Yana Rodiana, Sam Triawan, Iwan Sunarya, Dede Rosadi, Djadjang Nurdjaman, Sukowiyono, Suhendar, Kosasih, dan Djafar Sidik. Pemain-pemain berbakat itu ditangani pelatih Nandar Iskandar.

Tahun 1990

Gagal pada musim kompetisi 1986/1987, 1987/1988 dan 1988/1989. pada musim 1989/1990, Persib kembali unjuk gigi. Ditangani pelatih Ade Dana yang dibantu dua asistennya, Dede Rusli dan Indra M. Thohir, Persib membumikan kembali Piala Presiden di Bandung, setelah pada pertandingan final mengalahkan Persebaya Surabaya 2-0 lewat gol Dede Rosadi dan bunuh diri Subangkit.

Materi pemain Persib ketika itu terdiri dari Samai Setiadi, Gatot Prasetyo, Anwar Sanusi (penjaga gawang), Adeng Hudaya, Ade Mulyono, Dede Iskandar, Robby Darwis, Asep Somantri, Ajat Sudrajat, Yusuf Bachtiar, Djadjang Nurdjaman, Sutino Lamso, Nyanyang, Dede Rosadi, Edi Sutarsa, dan Yaya Sunarya.

Pada partai puncak yang digelar di Stadion Utama Senayan Jakarta, 11 Maret 1990, di hadapan puluhan ribu bobotoh yang berduyun-duyun datang ke Jakarta, para pemain Persib kembali menunjukkan keperkasaannya. Ambisi Persebaya untuk melakukan balas dendam, mereka kubur lewat dua gol yang dicetak Sutiono Lamso pada menit 7 dan Dede Rosadi menit ke-59.

Tahun 1994

Pada tahun 1994, Persib kembali membuat sejarah penting dalam percaturan sepak bola nasional. Setelah gagal mempertahankan gelar pada musim 1991/1992, Persib kembali merebut mahkota juara pada musim 1993/1994 setelah di final mengalahkan PSM Makassar 2-0 lewat gol yang dicetak Yudi Guntara dan Sutiono Lamso.

Dengan keberhasilan itu, Persib berhak membumikan Piala Presiden di Bandung, karena Kompetisi Perserikatan kali ini merupakan yang terakhir dipentaskan. Sebab, mulai musim 1994/1995, PSSI memutuskan untuk menggelar Liga Indonesia (LI) yang pesertanya terdiri dari 18 tim Perserikatan dan 16 tim Galatama.

Di hadapan sekitar 80.000 bobotoh yang memadati Stadion Utama Senayan, pelatih Ade Dana menurunkan formasi andalannya 3-5-2 dengan starting eleven Aris Rinaldi (kiper), Robby Darwis, Roy Darwis, Yadi Mulyadi (belakang), Dede Iskandar (bek saya kiri), Nandang Kurnaedi (bek sayap kanan), Asep Kustiana, Yusuf Bachtiar, Yudi Guntara (gelandang) serta duet striker Kekey Zakaria dan Sutiono Lamso.

Tahun 1995

Musim 1994/1995, PSSI memutuskan untuk menggelar Liga Indonesia (LI). Kompetisi ini diikuti oleh 18 tim Perserikatan dan 16 tim Galatama. Setelah kalah pada partai pembuka melawan Pelita Jaya 0-1 di Stadion Lebak Bulus, Persib bangkit pada partai-partai berikutnya.

Mengakhiri babak penyisihan Wilayah Barat, Persib berada di peringkat kedua dengan mengumpulkan nlai 69, hasil 20 kali menang, 9 seri, dan hanya 3 kali kalah. Bersama juara Wilayah Barat, Pelita Jaya (nilai 77), peringkat ketiga Bandung Raya (67), dan peringkat empat Medan Jaya (56), Persib mewakili Wilayah Barat lolos ke babak “8 Besar”.

Di babak “8 Besar” yang digelar di Stadion Utama Senayan, Persib bergabung di Grup B bersama Medan Jaya, Petrokimia Putra dan Dengan mencatat hasil imbang tanpa gol dengan Petrokimia, menang 2-1 atas Medan Jaya, dan menghantam Asyabaab Salim Grup Surabaya (ASGS), Persib lolos ke semifinal sebagai juara Grup B.

Di semifinal, Persib akhirnya bisa mematahkan perlawanan keras Barito Putra, ketika Kekey Zakaria mencetak gol satu-satunya dalam partai tersebut. Di final, Persib kembali harus berhadapan dengan Petrokimia yang menang 1-0 atas Pupuk Kaltim di semifinal.

Pada partai final, pelatih Indra Thohir menurunkan skuad terbaiknya, Anwar Sanusi (kiper), Mulyana, Robby Darwis, Yadi Mulyadi, Dede Iskandar, Nandang Kurnaedi, Yudi Guntara, Asep Kustiana, Yusuf Bachtiar, Kekey Zakaria, dan Sutiono Lamso.

Dengan dukungan puluhan ribu bobotoh yang memadati Stadion Utama Senayan, Persib akhirnya kembali mencetak sejarah dengan menjuarai LI pertama setelah Sutiono Lamso menjebol gawang Petrokimia Putra pada menit 76. Hingga pertandingan usai, Petrokimia gagal mencetak gol balasan.

Rabu, 11 Juni 2014

Bobotoh

Bobotoh


Keanggotaan
Meskipun Persib memiliki kepanjangan Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung, pendukungnya tidak sebatas dari Kota Bandung. Bobotoh tersebar di seluruh Jabar, mulai dari Banjar, Ciamis, Tasikmalaya, Cirebon, Kuningan, Karawang, Bekasi juga yang berada di luar Provinsi Jabar, seperti Jakarta, Tangerang, dan Serang. Bahkan, dari pesan singkat (SMS) yang masuk ke rubrik Apa Kata Bobotoh di harian ini, banyak pengirim SMS yang (mengaku) berasal dari luar negeri seperti Malaysia, Inggris, Amerika serikat, dll. Tiap Persib menjadi tuan rumah, bahkan hanya untuk laga uji coba, stadion selalu membludak. Tidak hanya jumlahnya yang sangat banyak, bobotoh juga memiliki fanatisme yang luar biasa. Kalau dikelola dengan baik, bobotoh akan menjadi kekuatan fantastis tidak hanya berupa dukungan di lapangan, tapi juga bisa menjadi pilar untuk keberlangsungan hidup Persib selepas era-APBD.

Cabang-cabang
Viking Persib fans club
Viking Persib fans club sudah ada sebelum organisasi dan kelompok suporter klub lain di Indonesia mulai menjamur pada akhir 1990-an, kelompok suporter Persib dengan jumlah anggota resmi terbesar ini sudah mendeklarasikan diri pada 17 Juli 1993.

Bobotoh Oriental
Bobotoh Oriental merupakan kumpulan bobotoh keturunan etnis Cina. Bobotoh Oriental dengan setia mendukung Persib baik saat Persib sedang diatas maupun sedang terpuruk. Sebagai warga Bandung yang menyukai sepakbola sangatlah wajar jika mengeskpresikannya kepada tim lokal Bandung yakni Persib. Bobotoh Oriental berawal dari sekumpulan anak-anak SMA di salah satu SMA swasta di Bandung yang sangat menyukai Persib. Mengadakan nonton bareng Persib jika Persib bertanding merupakan salah bentuk dukungan Bobotoh Oriental kepada Persib, karena pada saat itu belum berani untuk menonton langsung ke stadion.

Bobotoh Singapore
Bobotoh Singapore merupakan suatu kumpulan bobotoh yang berbasis di Singapura. Berdiri pada 17 Januari 2009. Berawal dari sekumpulan warga Indonesia penggemar Persib yang tinggal di Singapura.

Flower City Casuals
Flower City Casual (FCC) yang mengandung arti Casual dari Kota Bandung, merupakan satu dari sekian banyak kelompok suporter Persib yang selalu hadir saat Maung Bandung bertanding di kandang sendiri. Hadir dengan gaya casualnya dan tentu saja didasari kecintaannya terhadap Persib, FCC resmi berdiri pada tahun 2005 yang dipelopori oleh 3 orang pecinta Persib. Karena mempunyai kesamaan hobi dan kecintaan terhadap berbagai hal berbau Inggris atau British, FCC hadir di antara banyak kelompok suporter Persib dan memberikan dukungan positif kepada tim pangeran biru ini. Namun sayangnya kelompol FCC dikabarkan sudah bubar.

Ultras Persib
Kelompok ini tidak pernah berhenti menyanyi mendengungkan yel-yeluntuk mendukung maung bandung selama pertandingan berlangsung. Mereka juga rela berdiri sepanjang pertandingan berlangsung, Selain itu pun para mereka paling senang menyalakan flare atau smoke bomb di dalam stadion karena hal itu didorong untuk mencari perhatian, bahwa mereka hadir berbeda di dalam kerumunan manusia di dalam stadion. Ultras Persib-pun mempunyai beberapa kelompok di dalamnya, dan sekarang digabungkan dengan sebuah nama 'Tifosi Persib'.

Selasa, 10 Juni 2014

Asal Usul Sejarah Stadion Si Jalak Harupat

Asal Usul Sejarah Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Indonesia


Si Jalak Harupat adalah suatu stadion olahraga yang berlokasi di desa Kopo dan Cibodas, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Nama Si Jalak Harupat diambil dari julukan salah seorang pahlawan nasional dari Bojongsoang, Bandung yaitu Otto Iskandardinata.

Kini stadion tersebut menjadi milik Pemerintah Kabupaten Bandung. Persikab Bandung, yang merupakan wakil Kabupaten Bandung di Liga Indonesia menjadikan stadion tersebut sebagai kandangnya. Begitu pula dengan tim sekota Persikab, Persib yang menjadikan stadion ini sebagai homebase mereka.

Stadion ini dibangun mulai Januari 2003 pada saat Kabupaten Bandung dipimpin oleh bupati Obar Sobarna. Selanjutnya diresmikan pada hari jadi Kabupaten Bandung ke 364, tanggal 26 April 2005 oleh Agum Gumelar yang menjabat sebagai Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia Pusat.

FASILITAS
Fasilitas yang tersedia antara lain:

Lapangan sepak bola sebagai arena utama, dengan rumput jenis zoyzia matrella lin mer yang bisa meminimalkan cedera pemain bola.
Lampu untuk lapangan berkekuatan 1.000 lux yang memungkinkan dilaksanakannya pertandingan malam.
Papan skor (scoring board) elektronik.
Lintasan (track) untuk atletik dengan ukuran standar sebanyak 8 lintasan.
Tribun penonton yang mampu menampung 27.000 - 40.000 penonton.
Fasilitas komersial.
Fasilitas penunjang lainnya seperti toilet, kantin, ruang ganti pemain, ruang wasit, dan lain-lain.

Luas bangunan stadion adalah sebagai berikut:

Bangunan 28.177 m²
Lapangan sepak bola 7.500 m²
Lansekap 13.000 m²

PENILAIAN KEKAYAAN
Dalam rangka upayanya menjadi pendamping Stadion Gelora Bung Karno untuk menggelar pertandingan Piala Asia 2007, sekjen PSSI Nugraha Besoes yang melakukan peninjauan ke stadion Si Jalak Harupat, pada hari Minggu, 6 Februari 2005. Namun dinyatakan secara tegas bahwa masih banyak yang perlu dibenahi jika stadion ini ingin menjadi tuan rumah pertandingan internasional. Secara fisik stadion ini memang cukup kokoh dan strukturnya cukup bagus. Hanya saja, Jalak Harupat baru bisa memenuhi kualifikasi lokal dan nasional. Sistem drainase lapangan sudah bagus, demikian juga dengan rumput di lapangan. Hanya saja tempat duduk penonton masih menggunakan format tradisional, padahal untuk stadion modern seorang penonton disediakan satu tempat duduk. Loket untuk menjual tiket masih menyatu dengan stadion dan bukan di luar kompleks stadion seperti selayaknya stadion yang baik. Selain itu, kamar ganti pemain belum dilengkapi meja pijat dan loker. Demikian juga tempat pemain cadangan dinilai masih kurang sesuai. Kekurangan lainnya adalah lokasi stadion yang cukup jauh dari hotel. Dua lapangan pendukung dinilai masih kurang memenuhi syarat karena bentuknya tidak tertutup.[1] Dalam veritifikasi AFC pada bulan Oktober 2011 Stadion Si Jalak Harupat tidak mendapat kriteria A AFC karena banyak kekurangan tetapi layak untuk bisa menggelar pertandingan Liga Indonesia akan tetapi bila ingin bermain di AFC Champion League Stadion harus diupgrade.

PENGGUNAAN
Stadion Si Jalak Harupat digunakan sebagai markas Persib dan Persikab. Pelita Jaya juga pernah menggunakan stadion ini setelah berpindah dari Stadion Purnawarman di Purwakarta. Namun, saat ini Pelita menggunakan Stadion Singaperbangsa di Karawang sebagai markasnya. Persib juga memakai stadion ini pada Liga Super Indonesia 2009-10, namun untuk beberapa pertandingan terakhir kembali menggunakan Stadion Siliwangi, karena stadion ini direnovasi untuk ajang Pekan Olahraga Daerah (PORDA) Jawa Barat.

Stadion ini pernah menjadi tempat penyelenggaraan Piala Suzuki AFF 2008, pada pertandingan penyisihan grup hari terakhir, yang harus digelar bersamaan, yang saat itu digelar pula di Stadion Utama Gelora Bung Karno di Jakarta.

DATA - DATA : 
Nama Lengkap : Stadion Si Jalak Harupat
Lokasi : Soreang, Bandung, Indonesia
Dibuat : Januari 2003
Dibuka : 26 April 2005
Permukaan : Rumput zoyzia matrella lin mer
Biaya Pembuatan : 67,5 Milyar Rupiah
Kapasitas : 40.000


Sabtu, 07 Juni 2014

Stadion Gelora Bandung Lautan Api

Stadion Gelora Bandung Lautan Api

Stadion Gelora Bandung Lautan Api adalah sebuah stadion olahraga yang berada di Desa Rancanumpang, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. Stadion berada di antara ruas Jalan Tol Cileunyi-Padalarang KM 151 dan Jalan Bypass Soekarno-Hatta Bandung. Akses jalan menuju Stadion akan dibuat pintu tol khusus di KM 149 ruas Tol Cileunyi-Padalarang dan ruas jalan dari arah Stasiun KA Cimekar dan dari jalan Rancanumpang. Dibuat juga ruas jalan baru menyusuri tol sekitar 2 kilometer, disamping ruas jalan yang sudah ada. Stadion ini akan menjadi home base klub sepak bola asal Kota Bandung yaitu Persib Bandung di musim kompetisi 2014.

Berkas:Gelora BLA.JPG
Gelora BLA
Daftar isi  [sembunyikan] 
1 Pembukaan dan Peresmian (Soft Launching)
2 Kondisi Awal (Eksisting)
3 Pendanaan
4 Fasilitas
5 Pemberian Nama Stadion
6 Referensi
7 Pranala luar
Pembukaan dan Peresmian (Soft Launching)[sunting | sunting sumber]
Pembukaan dan peresmian atau soft launching stadion yang semula akan diadakan pada tanggal 31 Desember 2012 diundur menjadi tanggal 10 Mei 2013 karena kondisi stadion yang belum rampung terkendala beberapa faktor seperti cuaca dan lain-lain. Stadion ini diresmikan oleh Walikota Bandung, Dada Rosada. Selain itu acara peresmian juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Wakil Gubernur Dede Yusuf, Wakil Walikota Bandung Ayi Vivananda, dan beberapa pihak lainnya. Acara peresmian ini dihadiri sekitar 5000 orang.[5]

Kondisi Awal (Eksisting)[sunting | sunting sumber]
Stadion Gelora Bandung Lautan Api berada tepat di cekungan Danau Purba Bandung yang tanahnya mudah amblas & dibangun setinggi 5 meter dari permukaan tanah. Namun karena lahan yang digunakan lunak, ketinggian akan turun 1,7 meter hingga ketinggiannya menjadi 3,3 meter. Oleh karena itu, sampai tahap pelaksanaan proyek hambatan utama adalah pengurugan tanah dan keterlambatan perijinan ke PU untuk bukaan akses tol untuk pengangkutan material. Tanah untuk bangunan stadion adalah 24,5 hektaree, sementara kalau dengan fasilitas pendukung lain ditargetkan 40 hektaree.

Tanah eksisting untuk stadion adalah berupa sawah dengan material lempung lunak umumnya ketebalannya 30 meter. Oleh karena itu dilakukan rekayasa teknologi tinggi kontruksi mirip menjahit/mengobras tanah melalui alat bantu pemasangan jalur-jalur pipa PVD (Prefabricated Vertical Drain). PVD ini dipasang dengan jarak 1,3 x 1,3 meter sedalam 20 meter.

Sebelum tanah di urug diatas tanah asli, dilakukan terlebih dahulu pemasangan lembaran material geotextile tujuannya supaya penurunan tanah akibat konsolidasi merata. Selanjutnya dilakukan kegiatan penjahitan dari ketebalan 5 meter pengurugan tanah, nantinya akan turun 1,7 meter sehingga stadion berada pada ketinggian 3,3 meter diatas permukaan tanah yang sekarang. Karena teknologi ini biayanya mahal, maka hanya dilakukan pada area stadion yaitu seluas 50.000 meter persegi.

Pendanaan[sunting | sunting sumber]
Kesepakatan awal tadinya MoU antara Pemprov dengan Pemkot Kota Bandung tahun 2008, disepakati proporsi anggaran 60 % provinsi: 40 % Kota Bandung. Dengan catatan, tanah dan gedung stadion akan jadi aset provinsi. Perkembangan terbaru, MoU 27 Desember 2009, proporsi anggaran tidak ada lagi maka stadion Gedebage akan dibangun dan menjadi aset Kota Bandung, tapi Provinsi Jabar membantu selama 3 tahun anggaran lewat bantuan keuangan (Bankeu). Provinsi Jabar berkepentingan dengan Stadion Gelora Bandung Lautan Api karena akan jadi stadion Ibu Kota Provinsi dan akan jadi tempat pembukaan PON 2016 di Jawa Barat.

Fasilitas[sunting | sunting sumber]
Stadion ini di desain berstandar internasional, rumput yang digunakan adalah dari jenis Zoysia Matrella (Linn) Merr yakni rumput kelas satu standar FIFA. Stadion ini dilengkapi dengan lapangan sepakbola, atletik, kantor, sirkulasi, tribun atap full keliling, servis, e-board, scoring board dan kursinya tahan api dengan kursi merk Ferco. Karena standard FIFA itulah jumlah kursi penonton hanya 38.000 orang[3]. Kalau tanpa kursi sebenarnya bisa menampung 72.000 orang.

Standar Indonesia : SNI T-25-1991-03 STDR. PERENCANAAN STADION
Standar Internasional : Football Stadium Technical, Recommendation Requirements, FIFA Safety Guidelines.
Luas bangunan stadion :

Tapak Stadion 5.2 Ha
Lansekap 16.9 Ha
Gedungnya berlantai 4 dengan luas ruangan 72.000 meter persegi sehingga kalau ditotal dengan fasilitas pendukung lain dapat mencapai 40 hektare. Akan ada banyak mushola dan toilet berjumlah 766 buah, selain itu juga ada ruang VVIP untuk kelas kepala negara presiden dengan kaca anti peluru dan landasan helikopter.\


Jumat, 06 Juni 2014

Asal Mula Viking Persib Club

Asal Mula Viking Persib Club

Bermula saat sekelompok bobotoh fanatik PERSIB yang biasa“menghuni” tribun selatan mencetuskan ide untuk menjawab totalitas “sang idola” PERSIB Bandung di lapangan dengan sebuah totalitas dalam memberi dukungan, maka setelah melalui beberapa kali pertemuan yang cukup alot dan memakan waktu, akhirnya terbentuklah sebuah kesepakatan bersama. Tepatnya pada Tanggal 17 Juli 1993, disebuah rumah dibahu jalan Kancra no. 34, diikrarkanlah sebuah kelompok Bobotoh dengan nama VIKING PERSIB CLUB.. Adapun pelopor dari pendiriannya antara lain ; Ayi Beutik, Heru Joko, Dodi “Pesa” Rokhdian, Hendra Bule, dan Aris Primat dengan dihadiri oleh beberapa Pioner Viking Persib Club lainnya, yang hingga kini masih tetap aktif dalam kepengurusan Viking Persib Club. Nama VIKING diambil dari nama sebuah suku bangsa yang mendiami kawasan skandinavia di Eropa Utara. Suku bangsa tersebut dikenal dengan sifat yang keras, berani, gigih, solid, patriotis, berjiwa penakluk, pantang menyerah, serta senang menjelajah. Karakter dan semangat itulah yang mendasari “Pengadopsian” nama VIKING kedalam nama kelompok yang telah dibentuk. Secara demonstratif, Viking Persib Club pertama kali mulai menunjukan eksistensinya pada Liga Indonesia I — tahun 1993, yang digemborkan sebagai kompetisi semi professional pertama di Tanah Air kita. Slogan “PERSIB SANG PENAKLUK” begitu dominan terlihat pada salah satu atribut yang dipakai anggotanya. Viking dimasa ini masihlah sangat tradisional dan belum menunjukkan geliat sebagai sebuah organisasi yang utuh secara profesional, bahkan pada awalnya mereka tidak mempunyai homebase dan menjadikan halaman sekretariat PERSIB di Jalan gurame sebagai tempat berkumpul. Seiring waktu kehadiran mereka yang merajai tribun selatan pun mulai dikenal dan diakrabi bobotoh, banyak pula yang berminat untuk menjadi bagian dari Viking, pendaftaran anggota pun mulai dibuka lebar. 
Periode 1999-2004
Diperiode ini, Viking mengalami penambahan anggota yang cukup signifikan, bahkan karena saking banyaknya anggota maka para pimpinan Viking pun merasa bahwa tribun selatan sudah tak mampu lagi menampung jumlah anggota yang rutin menyaksikan pertandingan PERSIB secara langsung di Siliwangi, akhirnya tribun timur pun menjadi pilihan, terhitung sejak liga Indonesia VI, Viking mulai “hijrah” ke tribun timur dan menunjukkan eksistensi serta dukungan dari tribun dengan “view” yang lebih nyaman dan kapasatitas tempat duduk lebih besar.
Diperiode ini pulalah, tepatnya medio 2002-2003, Viking mengalami sebuah momentum penting saat Yudi Baduy sang sekretaris umum mulai sibuk dengan rutinitas dan pekerjaannya sehingga Viking membutuhkan darah segar untuk tetap menjaga dinamika roda organisasi, dan masuklah Budhi Bram, keterlibatannya bersama Viking dimulai saat yang bersangkutan menggarap album Kompilasi yang pertama. Seiring waktu, akhirnya Budhi Bram resmi menjabat sebagai sekretaris umum Viking yang baru.
Pada masa ini pulalah Viking yang tetap di pimpin oleh dwitunggal Herru Joko sang ketua umum dan Sang Panglima,Ayi Beutik mulai tumbuh sebagai organisasi yang sesungguhnya, seluruh potensi organisasi pun terus dioptimalkan untuk mendatangkan manfaat bagi PERSIB dan Viking sendiri. Viking dengan jumlah anggotanya yang mencapai ribuan orang mulai dilirik oleh berbagai perusahaan dan menjalin beberapa kerjasama dalam event-event besar. Tercatat berbagai perusahaan, mulai dari rokok, selular hingga clothing pernah menjalin kerjasama dengan Viking Persib Club.
lama kelamaan aksi Viking tak hanya sekedar bersorak di stadion, namun aktivitasnya mulai menyentuh berbagai aspek kehidupan, seperti bakti sosial, sunatan masal, kompetisi-kompetisi kreatif dll. Dimasa ini pulalah Viking mulai menjalin simpul-simpul signifikan dengan pihak-pihak yang strategis, seperti walikota Bandung dll.
Periode 2005-2009
Dimasa ini Viking semakin mapan dan dewasa, bahkan sisi komersil pun mulai teroptimalkan secara elegan. Lihat saja kelahiran Viking Persib fanshop yang bergerak dibisnis properti supporter, ataupun album digital dan bisnis RBT serta website resmi www.vikingpersib-club.com yang digarap oleh Viking, semakin menunjukkan ke-profesionalan organisasi ini. Jangan lupakan pula kehadiran PERSIB magz yang fenomenal dan sempat mewarnai dunia media soporter ditanah air dan berganti nama menjadi majalah
Idealisme Viking Persib Club
Viking Persib Club adalah sebuah kelompok bukanlah organisasi atau fans club dengan segala aturan-aturan formal yang mengikatnya. Setiap anggota atau Vikers adalah bagian dari sebuah “Keluarga”, …. Dan layaknya sebuah Keluarga, keberagaman sifat dan tingkah laku yang berada didalamnya adalah merupakan sesuatu hal yang lumrah, dan Viking akan selalu berusaha untuk mengakomodir keberagaman tersebut.
Kelompok Suporter dapat dikatakan sebagai kelompok sosial, karena didalamnya terdapat sekumpulan individu yang berinteraksi secara bersama-sama serta memiliki kesadaran keanggotaan yang didasarkan oleh kehendak dan prilaku yang disepakati. Seperti kebanyakan kelompok-kelompok Bobotoh lainnya yang turut terlahir sama seperti halnya Viking Persib Club, yaitu secara Grass Root (dari arus bawah), maka Viking Persib Club memiliki cara atau cirri khas dalam menyikapi setiap permasalahan anggotanya. Hubungan pertemanan dan kekeluargaan yang tulus, erat tanpa pamrih serta rasa persaudaraan yang tinggi menjadi modal yang kuat bagi VIKING untuk terus eksis selama beberapa dekade.
Keanggotaan Viking Persib Club yang semakin besar, jelas menuntut sebuah tanggung jawab serta pengaturan yang sedemikian rupa secara professional, agar dapat lebih terukur dari segi pendataan, keuangan, rutinitas maupun manajerial, yang tentu saja membawa dampak tanggung jawab yang sangat besar bagi kepengurusan Viking Persib Club. Namun tentu saja semua formalitas tersebut tidak akan menghilangkan warna, ciri khas serta karakter Viking Persib Club. “Viking tetaplah Viking! Dia harus bercirikan kedekatan yang tulus antar anggotanya dan berkarakter sebagai sebuah keluarga ataupun geng”
Viking Persib Club murni lahir secara independen berdasarkan inisiatif dari para Bobotoh dari golongan grass root. Dalam pandangan Viking, supporter tidak hanya berperan sebagai “tukang sorak” saat menyaksikan dan mendukung kesebelasan kesayangannya, tetapi peran supporter harus lebih dari itu! Dia harus menjadi pembangkit semangat saat tim kesayangannya jatuh bangun menunaikan tugasnya dilapangan. Supporter juga harus menjadi kekuatan tambahan bagi para pemain dilapangan, …… intinya, supporter harus menjadi pemain ke-12! Dan VIKING ingin menjadi pemain ke-12 bagi PERSIB.
Pada saat ini, …… ketika sepakbola sudah menjadi industri, Peranan Bobotoh buat PERSIB pun menjadi berkembang tidak hanya sebagai objek pelengkap saja. Bobotoh seharusnya menjadi bagian dari prestasi dan keberhasilan yang dicapai oleh PERSIB. Berangkat dari sana, ….. Viking Persib Club pun mulai mengembangkan sayapnya dalam berbagai bentuk aktualisasi diri, mulai dari peningkatan pengkoordiniran massa dengan dibentuknya “distrik” di berbagai wilayah pada kantung-kantung Bobotoh, Penjualan Merchandise, pembuatan album kompilasi Persib, hingga tour organizer yang menyelenggarakan pemberangkatan rombongan Bobotoh ketika mendukung PERSIB apabila bermain tandang.
Kepemimpinan & Kepengurusan Viking Persib Club
Sejak awal berdirinya hingga saat ini, ….. Viking Persib Club diketuai oleh Heru Joko, dengan Panglima — Ayi Beutik. Pertanyaan yang muncul, ……. Mengapa harus ada figur panglima? Jawabannya singkat saja, karena Bobotoh terikat secara emosional, dan mereka mengikatkan diri kepada PERSIB dan juga kepada sesama pendukung Persib. Kata Panglima disini adalah sosok “Ibu” dalam keluarga, pengasuh bagi anak-anaknya, sosok yang memimpin serta melindungi para anggota apabila terjadi sesuatu dilapangan. Sedangkan jabatan Ketua Umum yang disandang Heru Joko, adalah sebagai figure kharismatik yang memiliki fungsi politis keluar organisasi atau kelompok lain. Lain halnya dengan Yoedi Baduy yang menjabat sebagai Sekretaris Umum, ia mengelola dan mengkoordinir segala bentuk kegiatan secara administratif. Bisa dikatakan ketiganya adalah pemimpin atau leader Viking Persib Club, yang tentu saja ditopang oleh pentolan-pentolan Viking Persib Club yang lainnya, seperti ; Yana Ewok, Asep “Ucok”, Yana Bool (Mr. Y), Dadan Gareng, Boseng, Odoy, Pesa dan Hendra Bule.
Dan yang tak kalah pentingnya lagi, …… kontribusi Distrik-distrik Viking Persib Club yang saat ini sudah tersebar diberbagai wilayah , seolah menjadi elemen penting lainnya bagi pendobrak berkembangnya Viking Persib Club dewasa ini.


Kamis, 05 Juni 2014

Asal Usul Stadion Si Jalak Harupat

Asal Usul Sejarah Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Indonesia


Si Jalak Harupat adalah suatu stadion olahraga yang berlokasi di desa Kopo dan Cibodas, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Nama Si Jalak Harupat diambil dari julukan salah seorang pahlawan nasional dari Bojongsoang, Bandung yaitu Otto Iskandardinata.

Kini stadion tersebut menjadi milik Pemerintah Kabupaten Bandung. Persikab Bandung, yang merupakan wakil Kabupaten Bandung di Liga Indonesia menjadikan stadion tersebut sebagai kandangnya. Begitu pula dengan tim sekota Persikab, Persib yang menjadikan stadion ini sebagai homebase mereka.

Stadion ini dibangun mulai Januari 2003 pada saat Kabupaten Bandung dipimpin oleh bupati Obar Sobarna. Selanjutnya diresmikan pada hari jadi Kabupaten Bandung ke 364, tanggal 26 April 2005 oleh Agum Gumelar yang menjabat sebagai Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia Pusat.

FASILITAS
Fasilitas yang tersedia antara lain:

Lapangan sepak bola sebagai arena utama, dengan rumput jenis zoyzia matrella lin mer yang bisa meminimalkan cedera pemain bola.
Lampu untuk lapangan berkekuatan 1.000 lux yang memungkinkan dilaksanakannya pertandingan malam.
Papan skor (scoring board) elektronik.
Lintasan (track) untuk atletik dengan ukuran standar sebanyak 8 lintasan.
Tribun penonton yang mampu menampung 27.000 - 40.000 penonton.
Fasilitas komersial.
Fasilitas penunjang lainnya seperti toilet, kantin, ruang ganti pemain, ruang wasit, dan lain-lain.

Luas bangunan stadion adalah sebagai berikut:

Bangunan 28.177 m²
Lapangan sepak bola 7.500 m²
Lansekap 13.000 m²

PENILAIAN KEKAYAAN
Dalam rangka upayanya menjadi pendamping Stadion Gelora Bung Karno untuk menggelar pertandingan Piala Asia 2007, sekjen PSSI Nugraha Besoes yang melakukan peninjauan ke stadion Si Jalak Harupat, pada hari Minggu, 6 Februari 2005. Namun dinyatakan secara tegas bahwa masih banyak yang perlu dibenahi jika stadion ini ingin menjadi tuan rumah pertandingan internasional. Secara fisik stadion ini memang cukup kokoh dan strukturnya cukup bagus. Hanya saja, Jalak Harupat baru bisa memenuhi kualifikasi lokal dan nasional. Sistem drainase lapangan sudah bagus, demikian juga dengan rumput di lapangan. Hanya saja tempat duduk penonton masih menggunakan format tradisional, padahal untuk stadion modern seorang penonton disediakan satu tempat duduk. Loket untuk menjual tiket masih menyatu dengan stadion dan bukan di luar kompleks stadion seperti selayaknya stadion yang baik. Selain itu, kamar ganti pemain belum dilengkapi meja pijat dan loker. Demikian juga tempat pemain cadangan dinilai masih kurang sesuai. Kekurangan lainnya adalah lokasi stadion yang cukup jauh dari hotel. Dua lapangan pendukung dinilai masih kurang memenuhi syarat karena bentuknya tidak tertutup.[1] Dalam veritifikasi AFC pada bulan Oktober 2011 Stadion Si Jalak Harupat tidak mendapat kriteria A AFC karena banyak kekurangan tetapi layak untuk bisa menggelar pertandingan Liga Indonesia akan tetapi bila ingin bermain di AFC Champion League Stadion harus diupgrade.

PENGGUNAAN
Stadion Si Jalak Harupat digunakan sebagai markas Persib dan Persikab. Pelita Jaya juga pernah menggunakan stadion ini setelah berpindah dari Stadion Purnawarman di Purwakarta. Namun, saat ini Pelita menggunakan Stadion Singaperbangsa di Karawang sebagai markasnya. Persib juga memakai stadion ini pada Liga Super Indonesia 2009-10, namun untuk beberapa pertandingan terakhir kembali menggunakan Stadion Siliwangi, karena stadion ini direnovasi untuk ajang Pekan Olahraga Daerah (PORDA) Jawa Barat.

Stadion ini pernah menjadi tempat penyelenggaraan Piala Suzuki AFF 2008, pada pertandingan penyisihan grup hari terakhir, yang harus digelar bersamaan, yang saat itu digelar pula di Stadion Utama Gelora Bung Karno di Jakarta.

DATA - DATA : 
Nama Lengkap : Stadion Si Jalak Harupat
Lokasi : Soreang, Bandung, Indonesia
Dibuat : Januari 2003
Dibuka : 26 April 2005
Permukaan : Rumput zoyzia matrella lin mer
Biaya Pembuatan : 67,5 Milyar Rupiah
Kapasitas : 40.000




Rabu, 04 Juni 2014

Sejarah Bersatunya Viking Dan Bonek

Sejarah Bersatunya Viking Dan Bonek

Berdirinya Armada 86 hingga berevolusi menjadi PS Arema pada tahun 1987 membuat konflik semakin memanas. Dalam kompetisi Perserikatan, Persema dan Persebaya sudah memanaskan suhu konflik antar-suporter di Jawa Timur. Dengan hadirnya Arema yang mengikuti kompetisi Galatama, suhu itu kian memanas dengan rivalitas Arema dan Niac Mitra Surabaya. Semifinal Galatama tahun 1992 yang mempertandingkan PS Arema Malang melawan PS Semen Padang di stadion Tambaksari Surabaya menghadirkan awalan baru sejarah konflik Aremania-Bonek. Arek Malang (saat itu belum bernama Aremania) membuat ulah di Stasiun Gubeng pasca kekalahan Arema Malang dari Semen Padang. Kapolda Jatim saat itu akhirnya mengangkut mereka dalam 6 gerbong kereta api untuk menghindari kerusuhan dengan Bonek. Kejadian di Stasiun Gubeng itu membuat panas Bonek yang ada di Surabaya. Tindakan balasan mereka lakukan dengan mencegat dan menyerang rombongan Aremania pada akhir tahun 1993 saat akan melawat ke Gresik. Peristiwa ini dibalas oleh Aremania pada tahun 1996 dengan melakukan lawatan ke Stadion Tambaksari dengan pengawalan ketat DANDIM. Keberanian Aremania untuk hadir di Stadion Tambaksari kala pertandingan Persebaya melawan Arema saat itu telah membuat Bonek tidak bisa berbuat apa-apa dan harus menahan amarah mereka dengan cara menghina Aremania lewat kata-kata saja. Hal ini karena pertandingan tersebut disaksikan oleh para petinggi PSSI dan gubernur Jawa Timur saat itu, serta pengawalan ketat DANDIM kota Malang terhadap Aremania. Bagi Aremania, hal ini sudah sangat mempermalukan Bonek dengan datang langsung ke jantung pertahanan lawan sembari menunjukkan kesantunan Aremania dalam mendukung tim kesayangan. Semenjak itulah tidak ada kata damai dari Bonek kepada Aremania, dan Aremania sendiri juga menyatakan siap untuk melayani Bonek dengan kekerasan sekalipun. Kejadian ini dibalas oleh Bonek di Jakarta pada tahun 1998. Tanggal 2 Mei 1998 dimana Aremania akan hadir dalam pertandingan Persikab Bandung vs Arema Malang, Aremania yang baru turun dari kereta di Stasiun Jakarta Pasarsenen diserang oleh puluhan Bonek. Ketika itu rombongan Aremania yang berjumlah puluhan orang menaiki bus AC yang sudah disiapkan oleh Korwil Aremania Batavia. Di tengah jalan, belum jauh dari Stasiun Pasar Senen tiba-tiba bus yang ditumpangi Aremania dihujani batuan oleh Bonek. Untuk menghindari jatuhnya korban, rombongan Aremania langsung turun dari bus untuk melawan Bonek yang menyerang mereka. Bahkan Aremania sampai mengejar-ngejar Bonek yang ada di Stasiun Pasarsenen. Tindakan Aremania ini mendapat applaus dari warga setempat, sehingga Bonek harus mundur meninggalkan area Stasiun Pasarsenen. Kondisi rivalitas yang begitu panas antara Aremania dan Bonek membuat keduanya menandatangi nota kesepakatan bahwa masing-masing kelompok suporter tidak akan hadir ke kandang lawan dalam laga yang mempertemukan Arema dan Persebaya. Nota kesepakatan yang ditandatangani oleh Kapolda Jatim bersama kedua pemimpin kelompok suporter tersebut ditandatangani di Kantor Kepolisian Daerah Jawa Timur pada tahun 1999. Semenjak tahun 1999, maka kedua elemen suporter ini tidak pernah saling tandang dalam pertandingan yang mempertemukan kedua klub kesayangan masing-masing. Tetapi nota kesepakatan itu tidak mampu meredam konflik keduanya. Tragedi Sidoarjo yang terjadi pada bulan Mei 2001 menunjukkan masih adanya permusuhan kedua elemen ini. Kala itu pertandingan antara tuan rumah Gelora Putra Delta (GPD) Sidoarjo melawan Arema Malang di Stadion Delta Sidoarjo dalam lanjutan Liga Indonesia VII. Karena dekatnya jarak Surabaya-Sidoarjo membuat sejumlah Bonek hadir dalam pertandingan tersebut.

Menjelang pertandingan dimulai, batu-batu berterbangan dari luar stadion menyerang tribun yang diduduki oleh Aremania. Kondisi ini membuat Arema meminta kepada panpel untuk mengamankan wilayah luar stadion. Karena lemparan batu belum berhenti membuat Aremania turun ke lapangan, sementara di luar stadion justru terjadi gesekan antara Bonek dengan aparat. Turunnya Aremania ke lapangan pertandingan membuat pertandingan dibatalkan. Terdesaknya aparat keamanan yang kewalahan menghadapi Bonek membuat Aremania membantu aparat dengan memberikan lemparan balasan ke arah Bonek. Aremania pun harus dievakuasi keluar stadion dengan truk-truk dari kepolisian. Kejadian rusuh yang berkaitan antara Aremania dengan Bonek masih berlanjut pada tahun 2006. Kekalahan Persebaya Surabaya atas Arema Malang di stadion Kanjuruhan dalam laga first leg Copa Indonesia membuat kecewa Bonek di Surabaya. Seminggu kemudian, kegagalan Persebaya Surabaya mengalahkan Arema Malang di stadion Gelora 10 November Tambaksari Surabaya membuat Bonek mengamuk. Laga yang berkesudahan 0-0 ini harus dihentikan pada menit ke-83 karena Bonek kecewa dengan kekalahan Persebaya dari Arema Malang. Kekecewaan ini mereka lampiaskan dengan merusak infrastruktur stadion, memecahi kaca stadion, dan merusak beberapa mobil dan kendaraan bermotor lain yang ada di luar stadion. ANTV yang menayangkan pertandingan tersebut meliputnya secara vulgar, bahkan berkali-kali menunjukkan gambar rekaman mengenai mobil ANTV yang dirusak oleh Bonek. Aremania menyikapi hal ini dengan menyerahkannya secara total kepada pihak berwajib dan PSSI. Rivalitas keduanya tidak hanya hadir lewat kerusuhan dan peperangan, tetapi juga dengan nyanyian-nyanyian saat mendukung tim kesayangannya. Bonekmania, di kala pertandingan Persebaya melawan tim manapun, pasti akan menyanyikan lagu-lagu yang menghina Arema dan Aremania. Lagu-lagu yang menyebutkan Arewaria, Arema Banci, Singo-ne dadi Kucing, dan beberapa lagu lain kerap mereka nyanyikan di Stadion Gelora 10 November Tambaksari Surabaya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Aremania, dimana lagu-lagu anti-Bonek juga mereka kumandangkan kala Arema menghadapi tim lain di Stadion Kanjuruhan. Bahkan persitiwa terbaru adalah tersiarnya kabar mengenai dikepruknya mobil ber-plat N ketika malam tahun baru di Surabaya oleh pemuda berkaos hijau (oknum Bonek?)

Selasa, 03 Juni 2014

Islah Viking -The Jakmania Jangan Cuma Kamuflase

Islah Viking -The Jakmania Jangan Cuma Kamuflase


Suporter Persib Bandung terpecah menyikapi kedatangan The Jakmania --suporter Persija Jakarta-- ke Bandung sebagai tindak lanjut dari islah Viking-The Jak di Bogor. Jakmania bisa saja datang saat Persib menjamu Persija di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Kamis (8/5/2014) nanti. Mendapat lampu hijau bisa mendampingi timnya, kubu Jakmania berharap menyaksikan laga tersebut bersama-sama Viking dan bobotoh di stadion. Tapi dari kubu suporter Persib, ada yang siap menerima kedatangan Jakmania dan lainnya tidak. "Pada dasarnya menindaklanjuti islah tersebut kami siap saja menerima The Jak di Bandung dan menonton Persib-Persija. Tapi, itu berpotensi terjadi kericuhan," ujar Ketua The Bomb's Persib Fans Club, Nevi Efendi yang juga hadir dalam islah Viking-Jakmania di Bogor, 11 April lalu. Ketua Viking Barudak Bandung Selatan (BBS), Lala, menjamin keamanan laga Persib melawan Persija. "Kami tentu siap menjalankan tugas serta akan membantu aparat kepolisian. Kami tidak ingin laga klasik ini sampai tidak dilaksanakan," katanya di Mapolres Bandung, kemarin. Tapi sama seperti Nevi, dia berharap The Jakmania tidak hadir di Stadion Si Jalak Harupat. Hal itu agar menjamin keamanan dan mencegah hal yang tidak diinginkan. "Kami dari Viking BBS dan beberapa distrik di Kabupaten Bandung menolak kedatangan The Jak. Namun kita lihat nanti karena belum ada instruksi dari panglima Viking secara resmi," ujarnya. Terpisah, Ketua The Jak Mania, Muhammad Larico Ranggamone berharap islah Viking Persib dan The Jakmania di Bogor, bisa ditindaklanjuti dengan kehadiran The Jak dan Viking di Stadion Si Jalak Harupat. "Ini kami berharap ada realisasi dari kawan di Bandung. Islah ini bukan di mulut atau kamuflase saja. Tapi laga nanti bisa jadi ajang tindak lanjut dari islah Bogor," ujar Larico kepada Tribun melalui ponselnya, Rabu (30/4/2014). Ia mengaku pihaknya sudah berkoordinasi dengan jajaran Polda Metro Jaya untuk membahas keberangkatan The Jak ke Bandung. "Kemungkinan besar nanti kalau kami ke Bandung, dikawal dari Polda Metro Jaya. Sehingga dengan begitu, bisa menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan kedua kubu bisa nonton bareng Persib-Persija," ujarnya. Ia juga menyambut baik langkah Polda Jabar yang siap menerima kedatangan The Jak ke Bandung dengan menyiapkan skenario pengamanan. "Kami percaya kedua Polda ini mendukung perdamaian. Harapan kami tentu bisa diterima di Bandung menonton Persib-Persija di stadion. Begitu juga ketika nanti ke Jakarta, kami siap menerima suporter dari Bandung. Bukankah dengan begitu akan menjadi indah, kita bersatu dalam perbedaan," ujarnya. Ia meyakini konflik kedua kubu masih ada. Namun, ia menilai, konflik tersebut harus di-manage sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan bentrok yang melahirkan korban jiwa atau kerugian materil. "Hadirnya suporter Persib dan Persija dalam satu stadion ini akan jadi menarik. Memang, kontra akan tetap ada, tapi tetap harus dingin. Itu akan menjawab keraguan teman-teman di Bandung dan di Jakarta," katanya. Kapolres Bandung, AKBP Jamaludin, yang bertanggung jawab di wilayah Kabupaten Bandung, meminta para bobotoh tidak menggunakan atribut berbau rasisme saat datang ke stadion. Atribut berbau SARA dinilai akan memicu keributan dengan suporter lain. Kepolisian akan melakukan razia setiap bobotoh yang menggunakan baju bertuliskan hinaan. Sesuai dengan perintah Kapolda, lanjut Jamaludin, islah yang telah dilakukan antara Viking dan The Jakmania harus didukung semua pihak. Termasuk menghilangkan berbagai atribut bernada hinaan yang sering digunakan suporter saat menyaksikan pertandingan. "Kami akan tindak tegas setiap bobotoh yang memakai baju atau atribut bernada hinaan. Jangan sampai atribut itu mengganggu jalannya pertandingan," ujarnya. Jamaludin mengatakan, pihaknya menyiapkan 2.000 sampai 3.000 personel untuk mengamankan pertandingan. Namun dengan adanya satgas diharapkan dapat membantu pengamanan bobotoh yang hadir. Mengenai kehadiran The Jakmania ke Stadion Si Jalak Harupat, Jamaludin mengatakan suporter Macan Kemayoran itu tidak akan hadir. Hasil itu telah sesuai hasil kesepakatan yang dilakukan di Polres Bogor.

Senin, 02 Juni 2014

Syukuri Hasil Imbang Ujar Rahman Persib

Syukuri Hasil Imbang Ujar Rahman Persib

Kendati begitu, Rahman bersyukur Persib tidak sampai kehilangan poin di laga kandangnya. “Ya sedikit kecewa karena tidak bisa mendapatkan poin penuh di kandang sendri. Tapi kita tetap syukuri hasil ini,” ujar Rahman lewat sambungan elektronik, Kamis (22/5/2014).

Di laga pembuka putaran kedua Indonesia Super League (ISL) tersebut, Rahman menampik jika pasukan Maung Bandung masih belum beradaptasi dengan atmosfir pertandingan. Tapi memang hasil akhir pertandingan sepak bola tidak dapat diprediksi sebelumnya.

Pemain asal Makassar ini melanjutkan, selama 90 menit pertandingan, pasukan Maung Bandung sudah berjuang keras meraih kemenangan. Namun, hasil akhir laga tidak terlepas dari faktor keberuntungan yang diberikan Tuhan.

“Bukan masalah grogi atau belum panas, tapi namanya sepak bola kita tidak bisa prediksi kapan menang kapan kalah. Intinya kita semua pemain sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik buat tim, tinggal yang di atas yang menentukan mana menang mana kalah,” ungkapnya.

Rahman menuturkan, hasil seri di laga perdana putaran kedua diharapkan tidak sampai memengaruhi permainan tim Maung Bandung. Sebab jika itu terjadi, dia khawatir Persib malah merosot dari jajaran teratas klasemen wilayah barat.

Karenanya, Rahman mengajak seluruh penggawa Maung Bandung untuk bangkit dan melupakan kekecewaan dari hasil di laga sebelumnya. Sebaiknya Persib fokus mempersiapkan pertandingan berikutnya melawan Arema Cronous, Minggu (25/5/2014).

“Insya Allah ga pengaruh, karena kalau berpengaruh bisa-bisa kita terperosok ke bawah. Jadi harus tetap konsentrasi untuk pertandingan selanjutnya,” tutup pemilik nomor punggung 28 ini.

http://kapsulpelangsingherbal23.wordpress.com/2014/03/06/obat-pelangsing-tubuh-alami/http://caramenurunkanberatbadan.1naturalremedies.biz/obat-pelangsing-perut-alami/