Rabu, 25 Juni 2014

Milik Siapa Persib

Milik Siapa Persib

Direktur PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), M. Farhan, mengatakan, kerugian perusahaan payung skuad Persib Bandung terus menurun sejak berdiri tiga tahun lalu. Ia pun menjanjikan PT Persib bakal mulai menangguk keuntungan mulai akhir tahun ini.

Tercatat pada tahun 2009 kami masih rugi Rp 18 miliar, tapi pada 2010, kerugian turun jadi 16 miliar. "Tahun lalu kami kerugian turun lagi jadi Rp 8 miliar,"ujarnya saat jumpa pers di markas PT Persib, di Jalan Sulanjana, Kota Bandung, Senin 12 Maret 2012. 

Melihat data tersebut, Farhan yakin mulai September nanti Persib bisa mereguk keuntungan. Hingga kini skuad Persib tetap diminati perusahaan sponsor. Buktinya adalah Persib disokong sedikitnya tujuh sponsor besar antara lain PT Wiraswasta Gemilang Indonesia selaku produsen oli mesin sepeda motor Evalube, PT Daya Adira Mustika (Daya) selaku dealer utama sepeda motor Honda di Jawa Barat.

Selain itu, perusahaan ban sepeda motor merek Corsa dan perusahaan perlengkapan olahraga Mitre. Juga Equator Capital, Permata Resources, dan PT Surya Eka Perkasa. "Kami sekarang juga tengah menjajagi kontrak baru dengan perusahaan calon sponsor Persib tahun 2012/2013,"ujar Farhan.

Untuk saham, PT Persib Bandung Bermartabat tercatat dimiliki oleh 6 pihak. Mereka terdiri 5 individu dan 1 badan hukum. Kelima orang pemilik pribadi saham PT Persib adalah manajer tim Persib dan pengusaha Umuh Muhtar, pengacara Kuswara S. Taryono, eks Panglima Kodam III Siliwangi Zainuri Hasyim, eks Ketua Kadin Jawa Barat Iwan Dermawan, dan eks bos Harian Pikiran Rakyat Yoyo Adisuredja.

Adapun badan hukum penguasa saham PT Persib adalah PT Surya Eka Perkasa, sebuah perusahaan investasi milik keluarga Thohir. PT Surya Eka dipimpin Glen Sugita, yang kini menjabat sebagai Presiden Direktur PT Persib Bandung Bermartabat. "Jadi tak ada Bakrie Brothers (perusahaan milik keluarga Bakrie) di Persib. Saya tahu betul arus kas PT Persib dan Surya Eka Perkasa, tak ada uang Bakrie di Persib, saya jamin itu," kata dia. 

Selasa, 24 Juni 2014

Pelatih Pertama Pesib

Pelatih Pertama Pesib

Dalam sejarah sepak bola Indonesia PERSIB mampu memberikan banyak kontribusi, baik dalam organisasi maupun berupa materi pemain. Pada kesebelasan Nasional yang pertama (1950), PERSIB Menyumbangkan pemain, Aang Witarsa dan Yahya. Bahkan selanjutnya bintang-bintang PERSIB menjadi pemain terkemuka PSSI, seperti Ade Dana, Rukma, Omo, Wowo, Sunarto, Wowo, Fatah Hidayat, Isak Udin, Parhim dan lain-lain. Pada kejuaraan-kejuaraan PSSI yang diselenggarakan secara periodic, PERSIB dianggap “Duta Bandung”, bahkan “Duta Masyarakat Jawa Barat”. Berkali-kali sejak pertama kali tahun 1937, PERSIB menjadi juara nasional. Karena pakaian seragamnya biru-putih, PERSIB biasa diberi gelar “Pangeran Biru”, dan karena PERSIB dianggap pejuang Bandung, oleh masyarakat sering diberi julukan “Maung Bandung”

Salah satu pelatih PERSIB yang dikenal bertangan dingin dalam menangani kesebelasan ini yang mengantarkannya menjadi juara pada beberapa kompetisi sepakbola di tingkat nasional maupun kejuaraan lainnya adalah Indra Mochamad Tohir. Indra Tohir lahir di Bandung, tepatnya di kawasaan Cigereleng Bandung Selatan pada tanggal 7 Juli 1941, dari pasangan Bapak Asik dan Ibu Omas. Suami dari Ibu Aat Ratnawati serta ayah dari 2 putera dan 1 puteri ini menyelesaikan SD serta SMPnya di Bandung. Selanjutnya Indra Tohir melanjutkan ke SGPD dan ke APD yang selanjutnya berubah nama menjadi STO/FPOK UPI. Statusnya saat ini tercatat sebagai pegawai Negeri/Dosen di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung jurusan FPOK. Penampilannya yang kalem, ditemani asap rokok kretek yang selalu mengepul dari mulutnya dan beberapa gelas kopi hitam menjadi khas penampilan keseharian pelatih yang hobi golf ini.

Prestasi “Kang Tohir” demikian dia akrab disapa, di Persib dimulai sebagai pelatih fisik dari tahun 1984. Pada tahun 1990 melatih PSSI usia 14-16tahun. Tahun 1993 dibawah kepelatihannya, PERSIB menjadi Juara Perserikatan, tahun 1994 membawa PERSIB menjadi juara Liga Indonesia pertama. Sebagai pelatih, Tohir dikenal memiliki wibawa yang besar dikalangan pemain. Dalam melatih, Tohir tidak mengistimewakan pemain bintang dan tidak pilih kasih. Sebagai pelatih ia memiliki kiat, bahwa isterinya adalah isteri yang ke-2, isteri pertama adalah kesebelasan yang dilatihnya ini. Konsekuensi dari keseriusannya dalam melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pelatih, Tohir tidak bisa meninggalkan latihan, sehingga terkesan seperti yang tidak percaya kepada asisten. Akan tetapi, dukungan isterinya dalam menjalankan tugas sebagai pelatih PERSIB cukup besar.

Menurut penuturan isterinya, KangTohir yang dikenal memiliki hobi menyanyi, Dansa, serta main golf, dulu dikenal sebagai pemain Base ball Nasional, taun ‘67an, sedangkan Ceu Aat pemain Jabar. Walaupun memiliki hobi yang lain di luar sepakbola, dirinya tahu diri kalau mau latihan.

Sebagai pelatih, Kang Tohir Pernah melatih Persikabo Bogor, yang menaikkan status kesebelasan ini ke Divisi Utama (tahun 1997). Disiplin ke anggota keluargaan. Semua puteranya mewarisi darah ayahnya dalam hal olah raga. Beberapa catatan prestasinya melatih sepakbola, membawa dirinya untuk mengunjungi beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Brunei, Philifina, Taiwan dan Perancis. Pernah pula menjadi pelatih terbaik Asia waktu PERSIB berhasil mencapai babak perempat final Liga Champions Asia (LCA) 1995 dan Pelatih terbaik versi Majalah Bola.

Terakhir Kang Tohir yang rutin main golf 1-2 dalam seminggunya ini Menyampaikan saran untuk pelatih sepakbola lainnya, bahwa dalam melatih jangan pernah menjanjikan sesuatu kepada pemain serta tidak boleh menghujat pelatih lainnya.

Kamis, 19 Juni 2014

Jersey Persib Kini Tak Muat Lagi Ditempeli Logo Sponsor

Jersey Persib Kini Tak Muat Lagi Ditempeli Logo Sponsor

BANDUNG - Jersey Persib Bandung dipastikan tak akan muat lagi untuk ditempeli logo perusahaan yang jadi sponsor. Itu karena ada satu sponsor baru yang merapat ke Persib.

Perusahaan itu adalah OCTA Market Incorporated (OCTAFX) yang merupakan jasa layanan broker internasional. OCTAFX jadi sponsor Persib hingga akhir musim ini. 

Secara simbolis, penandatanganan kerjasama Persib dan OCTAFX dilakukan di Graha Persib, Kota Bandung, Senin (24/2/2014). Sebagai kompensasinya, logo OCTAFX akan terpasang di jersey bagian lengan kiri.

"Ini sponsor ketujuh yang nempel di jersey Persib. Sudah enggak muat kalau ada logo (sponsor) lagi," ujar Direktur PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Risha Adiwijaya.

Tapi Persib tidak menutup pintu bagi perusahaan yang ingin jadi sponsor. Bahkan dalam waktu dekat diharapkan segera terjalin kesepakatan dengan sejumlah perusahaan yang akan jadi sponsor 'Maung Bandung'.

"Kita tidak menutup kemungkinan untuk sponsor nonjersey. Kompensasinya juga sedang kita susun," ucapnya.

Soal besaran nilai kerjasama, baik PT PBB maupun OCTAFX ogah untuk terbuka. "Yang jelas kalau bicara budjet, cukup sampai akhir musim," tuturnya.

CEO OCTA Market Incorporated, Pavel Prozorov, mengatakan perusahaannya baru kali ini jadi sponsor tim sepakbola. "Ini jadi salah satu investasi kami yang sangat spektakuler," ucapnya.

Ia berharap mendapat keuntungan lebih setelah jadi sponsor Persib. "Pada akhirnya kami berharap melalui kemitraan ini baik kami maupun Persib dapat mencapai kesuksesan dan bersama-sama meraih keberhasilan pada kompetisi musim ini," paparnya.




Selasa, 17 Juni 2014

Asal Mula Viking Persib Club

Asal Mula Viking Persib Club

Bermula saat sekelompok bobotoh fanatik PERSIB yang biasa“menghuni” tribun selatan mencetuskan ide untuk menjawab totalitas “sang idola” PERSIB Bandung di lapangan dengan sebuah totalitas dalam memberi dukungan, maka setelah melalui beberapa kali pertemuan yang cukup alot dan memakan waktu, akhirnya terbentuklah sebuah kesepakatan bersama. Tepatnya pada Tanggal 17 Juli 1993, disebuah rumah dibahu jalan Kancra no. 34, diikrarkanlah sebuah kelompok Bobotoh dengan nama VIKING PERSIB CLUB.. Adapun pelopor dari pendiriannya antara lain ; Ayi Beutik, Heru Joko, Dodi “Pesa” Rokhdian, Hendra Bule, dan Aris Primat dengan dihadiri oleh beberapa Pioner Viking Persib Club lainnya, yang hingga kini masih tetap aktif dalam kepengurusan Viking Persib Club. Nama VIKING diambil dari nama sebuah suku bangsa yang mendiami kawasan skandinavia di Eropa Utara. Suku bangsa tersebut dikenal dengan sifat yang keras, berani, gigih, solid, patriotis, berjiwa penakluk, pantang menyerah, serta senang menjelajah. Karakter dan semangat itulah yang mendasari “Pengadopsian” nama VIKING kedalam nama kelompok yang telah dibentuk. Secara demonstratif, Viking Persib Club pertama kali mulai menunjukan eksistensinya pada Liga Indonesia I — tahun 1993, yang digemborkan sebagai kompetisi semi professional pertama di Tanah Air kita. Slogan “PERSIB SANG PENAKLUK” begitu dominan terlihat pada salah satu atribut yang dipakai anggotanya. Viking dimasa ini masihlah sangat tradisional dan belum menunjukkan geliat sebagai sebuah organisasi yang utuh secara profesional, bahkan pada awalnya mereka tidak mempunyai homebase dan menjadikan halaman sekretariat PERSIB di Jalan gurame sebagai tempat berkumpul. Seiring waktu kehadiran mereka yang merajai tribun selatan pun mulai dikenal dan diakrabi bobotoh, banyak pula yang berminat untuk menjadi bagian dari Viking, pendaftaran anggota pun mulai dibuka lebar. 
Periode 1999-2004
Diperiode ini, Viking mengalami penambahan anggota yang cukup signifikan, bahkan karena saking banyaknya anggota maka para pimpinan Viking pun merasa bahwa tribun selatan sudah tak mampu lagi menampung jumlah anggota yang rutin menyaksikan pertandingan PERSIB secara langsung di Siliwangi, akhirnya tribun timur pun menjadi pilihan, terhitung sejak liga Indonesia VI, Viking mulai “hijrah” ke tribun timur dan menunjukkan eksistensi serta dukungan dari tribun dengan “view” yang lebih nyaman dan kapasatitas tempat duduk lebih besar.
Diperiode ini pulalah, tepatnya medio 2002-2003, Viking mengalami sebuah momentum penting saat Yudi Baduy sang sekretaris umum mulai sibuk dengan rutinitas dan pekerjaannya sehingga Viking membutuhkan darah segar untuk tetap menjaga dinamika roda organisasi, dan masuklah Budhi Bram, keterlibatannya bersama Viking dimulai saat yang bersangkutan menggarap album Kompilasi yang pertama. Seiring waktu, akhirnya Budhi Bram resmi menjabat sebagai sekretaris umum Viking yang baru.
Pada masa ini pulalah Viking yang tetap di pimpin oleh dwitunggal Herru Joko sang ketua umum dan Sang Panglima,Ayi Beutik mulai tumbuh sebagai organisasi yang sesungguhnya, seluruh potensi organisasi pun terus dioptimalkan untuk mendatangkan manfaat bagi PERSIB dan Viking sendiri. Viking dengan jumlah anggotanya yang mencapai ribuan orang mulai dilirik oleh berbagai perusahaan dan menjalin beberapa kerjasama dalam event-event besar. Tercatat berbagai perusahaan, mulai dari rokok, selular hingga clothing pernah menjalin kerjasama dengan Viking Persib Club.
lama kelamaan aksi Viking tak hanya sekedar bersorak di stadion, namun aktivitasnya mulai menyentuh berbagai aspek kehidupan, seperti bakti sosial, sunatan masal, kompetisi-kompetisi kreatif dll. Dimasa ini pulalah Viking mulai menjalin simpul-simpul signifikan dengan pihak-pihak yang strategis, seperti walikota Bandung dll.
Periode 2005-2009
Dimasa ini Viking semakin mapan dan dewasa, bahkan sisi komersil pun mulai teroptimalkan secara elegan. Lihat saja kelahiran Viking Persib fanshop yang bergerak dibisnis properti supporter, ataupun album digital dan bisnis RBT serta website resmi www.vikingpersib-club.com yang digarap oleh Viking, semakin menunjukkan ke-profesionalan organisasi ini. Jangan lupakan pula kehadiran PERSIB magz yang fenomenal dan sempat mewarnai dunia media soporter ditanah air dan berganti nama menjadi majalah
Idealisme Viking Persib Club
Viking Persib Club adalah sebuah kelompok bukanlah organisasi atau fans club dengan segala aturan-aturan formal yang mengikatnya. Setiap anggota atau Vikers adalah bagian dari sebuah “Keluarga”, …. Dan layaknya sebuah Keluarga, keberagaman sifat dan tingkah laku yang berada didalamnya adalah merupakan sesuatu hal yang lumrah, dan Viking akan selalu berusaha untuk mengakomodir keberagaman tersebut.
Kelompok Suporter dapat dikatakan sebagai kelompok sosial, karena didalamnya terdapat sekumpulan individu yang berinteraksi secara bersama-sama serta memiliki kesadaran keanggotaan yang didasarkan oleh kehendak dan prilaku yang disepakati. Seperti kebanyakan kelompok-kelompok Bobotoh lainnya yang turut terlahir sama seperti halnya Viking Persib Club, yaitu secara Grass Root (dari arus bawah), maka Viking Persib Club memiliki cara atau cirri khas dalam menyikapi setiap permasalahan anggotanya. Hubungan pertemanan dan kekeluargaan yang tulus, erat tanpa pamrih serta rasa persaudaraan yang tinggi menjadi modal yang kuat bagi VIKING untuk terus eksis selama beberapa dekade.
Keanggotaan Viking Persib Club yang semakin besar, jelas menuntut sebuah tanggung jawab serta pengaturan yang sedemikian rupa secara professional, agar dapat lebih terukur dari segi pendataan, keuangan, rutinitas maupun manajerial, yang tentu saja membawa dampak tanggung jawab yang sangat besar bagi kepengurusan Viking Persib Club. Namun tentu saja semua formalitas tersebut tidak akan menghilangkan warna, ciri khas serta karakter Viking Persib Club. “Viking tetaplah Viking! Dia harus bercirikan kedekatan yang tulus antar anggotanya dan berkarakter sebagai sebuah keluarga ataupun geng”
Viking Persib Club murni lahir secara independen berdasarkan inisiatif dari para Bobotoh dari golongan grass root. Dalam pandangan Viking, supporter tidak hanya berperan sebagai “tukang sorak” saat menyaksikan dan mendukung kesebelasan kesayangannya, tetapi peran supporter harus lebih dari itu! Dia harus menjadi pembangkit semangat saat tim kesayangannya jatuh bangun menunaikan tugasnya dilapangan. Supporter juga harus menjadi kekuatan tambahan bagi para pemain dilapangan, …… intinya, supporter harus menjadi pemain ke-12! Dan VIKING ingin menjadi pemain ke-12 bagi PERSIB.
Pada saat ini, …… ketika sepakbola sudah menjadi industri, Peranan Bobotoh buat PERSIB pun menjadi berkembang tidak hanya sebagai objek pelengkap saja. Bobotoh seharusnya menjadi bagian dari prestasi dan keberhasilan yang dicapai oleh PERSIB. Berangkat dari sana, ….. Viking Persib Club pun mulai mengembangkan sayapnya dalam berbagai bentuk aktualisasi diri, mulai dari peningkatan pengkoordiniran massa dengan dibentuknya “distrik” di berbagai wilayah pada kantung-kantung Bobotoh, Penjualan Merchandise, pembuatan album kompilasi Persib, hingga tour organizer yang menyelenggarakan pemberangkatan rombongan Bobotoh ketika mendukung PERSIB apabila bermain tandang.
Kepemimpinan & Kepengurusan Viking Persib Club
Sejak awal berdirinya hingga saat ini, ….. Viking Persib Club diketuai oleh Heru Joko, dengan Panglima — Ayi Beutik. Pertanyaan yang muncul, ……. Mengapa harus ada figur panglima? Jawabannya singkat saja, karena Bobotoh terikat secara emosional, dan mereka mengikatkan diri kepada PERSIB dan juga kepada sesama pendukung Persib. Kata Panglima disini adalah sosok “Ibu” dalam keluarga, pengasuh bagi anak-anaknya, sosok yang memimpin serta melindungi para anggota apabila terjadi sesuatu dilapangan. Sedangkan jabatan Ketua Umum yang disandang Heru Joko, adalah sebagai figure kharismatik yang memiliki fungsi politis keluar organisasi atau kelompok lain. Lain halnya dengan Yoedi Baduy yang menjabat sebagai Sekretaris Umum, ia mengelola dan mengkoordinir segala bentuk kegiatan secara administratif. Bisa dikatakan ketiganya adalah pemimpin atau leader Viking Persib Club, yang tentu saja ditopang oleh pentolan-pentolan Viking Persib Club yang lainnya, seperti ; Yana Ewok, Asep “Ucok”, Yana Bool (Mr. Y), Dadan Gareng, Boseng, Odoy, Pesa dan Hendra Bule.
Dan yang tak kalah pentingnya lagi, …… kontribusi Distrik-distrik Viking Persib Club yang saat ini sudah tersebar diberbagai wilayah , seolah menjadi elemen penting lainnya bagi pendobrak berkembangnya Viking Persib Club dewasa ini.
obatpelangsingherbaltanpaefeksamping.wordpress.com obatherbalpelangsingperutbuncit.wordpress.com obatpelangsingperutyangalami.wordpress.com obattradisionaluntukdiet.wordpress.com obatpelangsingbadanherball.wordpress.com

Senin, 16 Juni 2014

ASAL MUASAL PERMUSUHAN VIKING & THE JAK

ASAL MUASAL PERMUSUHAN VIKING & THE JAK


Asal Mula Perseteruan Viking vs The jack
Banyak yang tidak tahu dan bertanya, bagaimana sebenarnya permusuhan Viking dengan the jak bermula. Mengapa timbul rasa benci dalam benak masing-masing dari mereka. Hingga kini, keduanya masih saja berseteru. Bahkan semakin meruncing.
 
Penyebabnya sepele dan manusiawi, rasa iri. Iri hati dan sirik inilah yang membuat keduanya bermusuhan. Rentang waktu 1985 hingga 1995 adalah masa keemasan Persib. Sementara Viking yang berdiri tahun 1993 begitu setia mendukung klub kebanggaan warga Jawa Barat itu. Dimanapun Persib bermain, disana pasti ada Viking. Termasuk jika bermain di Jakarta. Semua menjadi lautan biru.
 
Inilah yang membuat anak muda ibukota iri. Selain kejayaan Persib kala itu, kesetiaan Viking membuat hati mereka panas. Saat itu muda-mudi betawi baru mampu membentuk kolompok kecil bernama Persija Fans Club. Walaupun begitu, kebesarkepalaan mereka sudah sangat menjadi. Hingga terjadilah insiden di stadion Menteng. Saat Persija menjamu Maung Bandung pada Liga Indonesia ke-2. Viking membirukan Ibukota dengan sekitar 9000 anggotanya. Sementara Persija Fans Club hanya berjumlah tak lebih dari 1000 orang. Rupanya bocah-bocah betawi itu tak rela kandangnya dikuasai supporter kota lain. Mereka pun membuat ulah. Seakan lupa jumlah mereka tak lebih dari 10% anak-anak Bandung. Hingga akhirnya, mereka mendapatkan akibatnya. Dengan kuantitas yang hanya satu tribun VIP, lemparan batu diarahkan Viking pada lokasi mereka menonton. Dan itu dilakukan Viking di Jakarta. Hal yang tidak berani dilakukan bocah Jakarta di Kota Kembang.
 
Singkat cerita, pada tahun 1997, muda-mudi ibukota ikut-ikutan membentuk perkumpulan supporter. Mereka menamakannya the jakmania.
 
Kebodohan the jak terekspos keseluruh negeri ketika mereka tak berdaya menghadapi Viking dalam kuis Siapa Berani. Kuis yang menguji wawasan dan kemampuan berpikir. Itu merupakan edisi khusus kuis Siapa Berani, edisi supporter sepak bola. Menghadirkan Viking, the jak, Pasoepati (Solo), Aremania, dan ASI (Asosiasi Suporter Indonesia). Pemenangnya, Viking. Perwakilan Viking berhasil melewati babak bonus dan berhak atas uang tunai 10 juta rupiah.
 
Seperti biasanya, rasa iri dari the jak muncul. Malu dikalahkan di kotanya sendiri, ketua the jak saat itu, Ferry Indra Syarif memukul Ali, seorang Viker yang menjadi pemenang kuis. Sungguh perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang ketua. Ketuanya saja begitu, apalagi anak buahnya?
 
Kejadian itu terjadi di kantin Indosiar, ketika dilangsungkannya acara pemberian hadiah. Kontan keributan sempat terjadi, namun berhasil diatasi.
 
Kesirikan the jak tak sampai disitu. Mereka menghadang rombongan Viking dalam perjalanan pulang menuju Bandung, tepatnya di pintu tol Tomang. Anak-anak Bandung yang berjumlah 60 orang pulang dengan menggunakan dua mobil Mitsubishi Colt milik Indosiar dan satu mobil Dalmas milik kepolisian. Ketiga mobil ini dihadang sebuah Carry abu-abu. Dua lolos, namun nahas bagi salah satu Mitsubishi Colt yang ditumpangi para anggota Viking. Mobil itu terperangkap gerombolan the jak. Kontan, mobil dirusak, Viking disiksa, dan uang para pendukung pangeran biru itu pun dijarah. Termasuk handphone dan dompet mereka.
 
Tercatat sembilan anggota Viking mengalami luka-luka. Tiga diantaranya terluka parah. Namun sayang, pihak kepolisian lamban dalam menyelesaikan kasus ini. Termasuk dalam menangkap the jak yang merampok dan menganiaya anggota Viking Persib Club.
 
Hingga saat ini perseteruan kedua kelompok supporter itu masih terus berlanjut. Viking, yang bersahabat karib dengan klub penggemar sepak bola lainnya ( Bonek, Sakera, Blue Devil, The Lobster, Persikmania, Kampak FC,dll. ) tidak akan pernah berbesar kepala. Viking akan menjaga persahabatan itu sampai kapanpun. Persija pun iri dan ingin menggoyahkan persahabatan ini. Tapi Persija tidak berhasil. Sampai kapanpun kita akan satu...olisian lamban dalam menyelesaikan kasus ini. Termasuk dalam menangkap the jak yang merampok dan menganiaya anggota Viking Persib Club.
 
Melihat sejarah, VIKING dan BONEK adalah pendukung sejati dari klub perserikatan yang sudah menjadi musuh bebuyutan dari sejak jaman perserikatan, yaitu PERSIB dan PERSEBAYA. Dilihat dari kacamata awam, tidak mungkin pendukung sejati yang berani mati demi mendukung timnya bisa bersahabat bahkan bersaudara dengan pendukung sejati yang sama-sama berani mati demi mendukung tim musuh bebuyutan. Tetapi ternyata VIKING dan BONEK membuktikan bahwa mereka bisa. Persaudaraan mereka dilandasi perasaan senasib dimana mereka selalu dijadikan bahan hujatan dan pendiskreditan dari masyarakat sepakbola nasional. Bahkan pers nasional pun paling senang apabila ada kerusuhan di partai yang melibatkan PERSIB atau PERSEBAYA karena bisa dijadikan headline dan sudah jelas pihak mana yang akan disalahkan.
 
Sejak dulu VIKING dan BONEK diidentikkan dengan kerusuhan. Istilahnya dimana ada pertandingan yang ditonton oleh VIKING atau BONEK maka akan terjadi kerusuhan. Hal-hal jelek dan bersifat mendiskreditkan itulah yang lebih sering diekspos oleh media massa nasional. Padahal tidak semua kegiatan atau kelakuan VIKING dan BONEK berujung pada kerusuhan. Dan tidak semua kerusuhan itu diakibatkan oleh mereka. Mereka hanyalah kaum tertindas yang selalu dipersalahkan karena dosa-dosa di masa lalu. Sangat jarang sekali (atau bahkan tidak pernah?) media massa nasional memberitakan kegiatan positif yang VIKING atau BONEK lakukan. Sangat jauh berbeda dengan pemberitaan media massa nasional tentang pendukung tim lain. Ketika terjadi kerusuhan yang melibatkan mereka hanya ditulis sedikit (atau bahkan tidak ditulis sama sekali?) dan ditutupi dengan kata-kata “oknum yang mengatasnamakan pendukung…”. What a bullshit! Sedangkan ketika melakukan kegiatan positif, media massa nasional langsung memberitakan secara besar-besaran, sebesar berita kerusuhan yang melibatkan VIKING atau BONEK. Bahkan saking terlalu seringnya pemberitaan yang memojokkan VIKING sebagai bobotoh PERSIB, bobotoh lain yang bukan anggota VIKINGpun menjadi antipati terhadap media massa nasional. Sampai ada jargon di kalangan bobotoh bahwa “PERSIB besar bukan karena pemberitaan media massa nasional, PERSIB besar karena bobotoh dan prestasi. PERSIB dan bobotoh tidak membutuhkan media massa nasional untuk menjadi besar. Media massa nasional-lah yang membutuhkan PERSIB untuk menjadi besar dan terkenal”.
 
Hal itulah yang mungkin menjadi salah satu penyebab munculnya perasaan senasib dan berkembang menjadi ikatan persaudaraan, selain tentunya kerusuhan di Jakarta dimana BONEK yang hendak mendukung PERSEBAYA di Senayan diserang oleh sepasukan organisasi masyarakat (?), yang tidak usah saya sebutkan disini karena semua juga sudah tau, dan kemudian diselamatkan oleh beberapa bobotoh (anggota VIKING) yang kebetulan sedang ada disana. Juga ketika PERSIB melawat ke Surabaya, dimana anggota VIKING yang mendukung PERSIB di sana dijamu sangat baik oleh BONEK. Demikian pula ketika PERSEBAYA yang bertanding di Bandung, giliran BONEK yang dijamu sangat baik oleh VIKING.
Indahnya persaudaraan diantara dua kubu suporter TERBESAR di Indonesia itu. Jadi saat ini BONEK bukan hanya berarti BONDO NEKAT, tapi bisa juga berarti BOBOTOH NEKAD.

 

Kamis, 12 Juni 2014

Persib Baheula

Persib Baheula

SEPANJANG sejarah perjalanan Persib Bandung sejak dilahirkan pada 14 Maret 1933, tim kebanggaan masyarakat Jawa Barat itu pernah enam kali mengecap manisnya gelar juara. Di era Kompetisi Perserikatan, Persib lima kali tampil sebagai kampiun pada tahun 1937, 1961, 1986, 1990, dan 1994. Ketika kompetisi di Indonesia memasuki era semiprofesional, Persib masih bisa berbicara banyak. Dengan mengandalkan pemain binaannya sendiri, Persib tampil sebagai yang terbaik di Liga Indonesia (LI) I/1994-1995.

Tahun 1937

Ketika itu, usia Persib belum genap empat tahun sejak didirikan pada tahun 1933. Namun, Persib bisa langsung unjuk gigi di kancah sepak bola nasional. Setelah hanya mampu menjadi runner-up pada kompetisi 1933, 1934, dan 1936, untuk pertama kalinya Persib tampil sebagai juara pada tahun 1937.

Sejarah emas yang ditorehkan Persib itu terjadi setelah pada pertandingan final menjungkalkan raksasa sepak bola Indonesia saat itu, Persis Solo, 2-1 di Stadion Sriwedari Solo. Sayang, tidak ditemukan catatan tim mana saja yang mengikuti kompetisi pada tahun itu.

Namun, R. Ading Affandi (RAF) dalam Lintasan Sejarah Persib, mencatat PSIM Yogyakarta (juara 1932) dan VIJ Jakarta (juara 1933, 1934) sebagai tim yang paling disegani Persis ketika itu. Dari sumber lain ditemukan, PSIT Cirebon juga menjadi peserta dan berhasil merebut posisi ketiga kompetisi tahun itu.

Materi pemain Persib yang tercatat ketika itu antara lain Jasin, Arifin, Kucid, Edang, Ibrahim Iskandar, Saban, Sugondo, Adang. Berkat gelar juara yang diraihnya itu, seluruh pemain Persib masing-masing mendapatkan uang saku sebesar F 2,50 (seringgit, dua rupiah, lima puluh sen).

Tahun 1961

Setelah kembali menjadi runner-up pada tahun 1950 dan 1959, karena kalah bersaing dengan PSM Makassar, Persib akhirnya kembali tampil sebagai kampiun pada tahun 1961. Pada putaran final yang menggunakan sistem setengah kompetisi dan setiap peserta mendapat jatah jadi tuan rumah, Sunarto dan kawan-kawan menyingkirkan enam rivalnya, PSM Makassar, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, PSMS Medan, PSIS Semarang, dan Persema Malang.

Ketika itu, skuad Persib dihuni oleh pemain-pemain macam Simon Hehanusa, Hermanus, Djudju Sukandar (penjaga gawang), Ishak Udin, Iljas Hadade, Rukma Sudjana, Fatah Hidayat, Sunarto, Him Tjhiang, Kwee Kiat Sek, Ade Dana, Hengki Timisela, Wowo Sunaryo, Nazar, Omo Suratmo, Suhendar, Pietje, dan Hengky Timisela.

Gelar juara Persib ditentukan pada partai terakhir ketika mengalahkan Persija 3-1 di Semarang, 31 Juni 1961. Tiga gol penentu kemenangan Persib dicetak Wowo Sunaryo pada menit 12 dan 20, serta Hengky Timisela pada menit 23.

Tahun 1986

Setelah terpuruk pada dekade ‘70-an dan sempat terlempar dari kelompok elite Kompetisi Perserikatan pada tahun 1978, Persib langsung melakukan konsolidasi ke dalam. Pembinaan pemain muda berbakat secara konsisten dan berkesinambungan dilakukan pada awal dekade ‘80-an. Untuk menempa para pemain berbakat ini, Ketua Umum Persib, Solihin G.P. mendatangkan pelatih asal Polandia, Marek Janota.

Setelah dua tahun berjalan, pembinaan pemain muda yang dilakukan Persib mulai membuahkan hasil. Dengan ciri khas sepak bola indahnya, Persib kembali menjelma menjadi salah satu tim yang disegani. Sayang, pada musim 1982/1983 dan 1984/1985, Persib belum mampu tampil sebagai juara. Adeng Hudaya dan kawan-kawan dua kali kandas di final setelah dikalahkan PSMS Medan melalui drama adu penalti.

“Nista, maja, utama”. Itulah kalimat yang terucap dari mulut H. Ateng Wahyudi, Ketua Umum Persib baru yang menggantikan Solihin G.P., begitu Persib akan tampil di Kompetisi Perserikatan 1985/1986. Kalimat tersebut ternyata sangat mujarab. Setelah dua kali gagal di final pada musim sebelumnya, kali ini Persib berhasil memboyong Piala Presiden ke Bandung, setelah menumbangkan Perseman Manokwari 1-0 pada pertandingan final di Stadion Utama Senayan Jakarta. Gol tunggal Persib pada partai final dicetak Djadjang Nurdjaman.

Materi pemain yang mengantarkan Persib menjadi juara pada tahun 1986 itu tidak lain generasi emas hasil binaan sejak awal dekade ‘80-an. Mereka adalah Sobur, Boyke Adam (penjaga gawang), Wawan Hermawan, Wawan Karnawan, Ade Mulyono, Suryamin, Ujang Mulyana, Sarjono, Adeng Hudaya, Robby Darwis, Yoce Roni, Kornelis, Ajid Hermawan, Ajat Sudrajat, Yana Rodiana, Sam Triawan, Iwan Sunarya, Dede Rosadi, Djadjang Nurdjaman, Sukowiyono, Suhendar, Kosasih, dan Djafar Sidik. Pemain-pemain berbakat itu ditangani pelatih Nandar Iskandar.

Tahun 1990

Gagal pada musim kompetisi 1986/1987, 1987/1988 dan 1988/1989. pada musim 1989/1990, Persib kembali unjuk gigi. Ditangani pelatih Ade Dana yang dibantu dua asistennya, Dede Rusli dan Indra M. Thohir, Persib membumikan kembali Piala Presiden di Bandung, setelah pada pertandingan final mengalahkan Persebaya Surabaya 2-0 lewat gol Dede Rosadi dan bunuh diri Subangkit.

Materi pemain Persib ketika itu terdiri dari Samai Setiadi, Gatot Prasetyo, Anwar Sanusi (penjaga gawang), Adeng Hudaya, Ade Mulyono, Dede Iskandar, Robby Darwis, Asep Somantri, Ajat Sudrajat, Yusuf Bachtiar, Djadjang Nurdjaman, Sutino Lamso, Nyanyang, Dede Rosadi, Edi Sutarsa, dan Yaya Sunarya.

Pada partai puncak yang digelar di Stadion Utama Senayan Jakarta, 11 Maret 1990, di hadapan puluhan ribu bobotoh yang berduyun-duyun datang ke Jakarta, para pemain Persib kembali menunjukkan keperkasaannya. Ambisi Persebaya untuk melakukan balas dendam, mereka kubur lewat dua gol yang dicetak Sutiono Lamso pada menit 7 dan Dede Rosadi menit ke-59.

Tahun 1994

Pada tahun 1994, Persib kembali membuat sejarah penting dalam percaturan sepak bola nasional. Setelah gagal mempertahankan gelar pada musim 1991/1992, Persib kembali merebut mahkota juara pada musim 1993/1994 setelah di final mengalahkan PSM Makassar 2-0 lewat gol yang dicetak Yudi Guntara dan Sutiono Lamso.

Dengan keberhasilan itu, Persib berhak membumikan Piala Presiden di Bandung, karena Kompetisi Perserikatan kali ini merupakan yang terakhir dipentaskan. Sebab, mulai musim 1994/1995, PSSI memutuskan untuk menggelar Liga Indonesia (LI) yang pesertanya terdiri dari 18 tim Perserikatan dan 16 tim Galatama.

Di hadapan sekitar 80.000 bobotoh yang memadati Stadion Utama Senayan, pelatih Ade Dana menurunkan formasi andalannya 3-5-2 dengan starting eleven Aris Rinaldi (kiper), Robby Darwis, Roy Darwis, Yadi Mulyadi (belakang), Dede Iskandar (bek saya kiri), Nandang Kurnaedi (bek sayap kanan), Asep Kustiana, Yusuf Bachtiar, Yudi Guntara (gelandang) serta duet striker Kekey Zakaria dan Sutiono Lamso.

Tahun 1995

Musim 1994/1995, PSSI memutuskan untuk menggelar Liga Indonesia (LI). Kompetisi ini diikuti oleh 18 tim Perserikatan dan 16 tim Galatama. Setelah kalah pada partai pembuka melawan Pelita Jaya 0-1 di Stadion Lebak Bulus, Persib bangkit pada partai-partai berikutnya.

Mengakhiri babak penyisihan Wilayah Barat, Persib berada di peringkat kedua dengan mengumpulkan nlai 69, hasil 20 kali menang, 9 seri, dan hanya 3 kali kalah. Bersama juara Wilayah Barat, Pelita Jaya (nilai 77), peringkat ketiga Bandung Raya (67), dan peringkat empat Medan Jaya (56), Persib mewakili Wilayah Barat lolos ke babak “8 Besar”.

Di babak “8 Besar” yang digelar di Stadion Utama Senayan, Persib bergabung di Grup B bersama Medan Jaya, Petrokimia Putra dan Dengan mencatat hasil imbang tanpa gol dengan Petrokimia, menang 2-1 atas Medan Jaya, dan menghantam Asyabaab Salim Grup Surabaya (ASGS), Persib lolos ke semifinal sebagai juara Grup B.

Di semifinal, Persib akhirnya bisa mematahkan perlawanan keras Barito Putra, ketika Kekey Zakaria mencetak gol satu-satunya dalam partai tersebut. Di final, Persib kembali harus berhadapan dengan Petrokimia yang menang 1-0 atas Pupuk Kaltim di semifinal.

Pada partai final, pelatih Indra Thohir menurunkan skuad terbaiknya, Anwar Sanusi (kiper), Mulyana, Robby Darwis, Yadi Mulyadi, Dede Iskandar, Nandang Kurnaedi, Yudi Guntara, Asep Kustiana, Yusuf Bachtiar, Kekey Zakaria, dan Sutiono Lamso.

Dengan dukungan puluhan ribu bobotoh yang memadati Stadion Utama Senayan, Persib akhirnya kembali mencetak sejarah dengan menjuarai LI pertama setelah Sutiono Lamso menjebol gawang Petrokimia Putra pada menit 76. Hingga pertandingan usai, Petrokimia gagal mencetak gol balasan.

Rabu, 11 Juni 2014

Bobotoh

Bobotoh


Keanggotaan
Meskipun Persib memiliki kepanjangan Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung, pendukungnya tidak sebatas dari Kota Bandung. Bobotoh tersebar di seluruh Jabar, mulai dari Banjar, Ciamis, Tasikmalaya, Cirebon, Kuningan, Karawang, Bekasi juga yang berada di luar Provinsi Jabar, seperti Jakarta, Tangerang, dan Serang. Bahkan, dari pesan singkat (SMS) yang masuk ke rubrik Apa Kata Bobotoh di harian ini, banyak pengirim SMS yang (mengaku) berasal dari luar negeri seperti Malaysia, Inggris, Amerika serikat, dll. Tiap Persib menjadi tuan rumah, bahkan hanya untuk laga uji coba, stadion selalu membludak. Tidak hanya jumlahnya yang sangat banyak, bobotoh juga memiliki fanatisme yang luar biasa. Kalau dikelola dengan baik, bobotoh akan menjadi kekuatan fantastis tidak hanya berupa dukungan di lapangan, tapi juga bisa menjadi pilar untuk keberlangsungan hidup Persib selepas era-APBD.

Cabang-cabang
Viking Persib fans club
Viking Persib fans club sudah ada sebelum organisasi dan kelompok suporter klub lain di Indonesia mulai menjamur pada akhir 1990-an, kelompok suporter Persib dengan jumlah anggota resmi terbesar ini sudah mendeklarasikan diri pada 17 Juli 1993.

Bobotoh Oriental
Bobotoh Oriental merupakan kumpulan bobotoh keturunan etnis Cina. Bobotoh Oriental dengan setia mendukung Persib baik saat Persib sedang diatas maupun sedang terpuruk. Sebagai warga Bandung yang menyukai sepakbola sangatlah wajar jika mengeskpresikannya kepada tim lokal Bandung yakni Persib. Bobotoh Oriental berawal dari sekumpulan anak-anak SMA di salah satu SMA swasta di Bandung yang sangat menyukai Persib. Mengadakan nonton bareng Persib jika Persib bertanding merupakan salah bentuk dukungan Bobotoh Oriental kepada Persib, karena pada saat itu belum berani untuk menonton langsung ke stadion.

Bobotoh Singapore
Bobotoh Singapore merupakan suatu kumpulan bobotoh yang berbasis di Singapura. Berdiri pada 17 Januari 2009. Berawal dari sekumpulan warga Indonesia penggemar Persib yang tinggal di Singapura.

Flower City Casuals
Flower City Casual (FCC) yang mengandung arti Casual dari Kota Bandung, merupakan satu dari sekian banyak kelompok suporter Persib yang selalu hadir saat Maung Bandung bertanding di kandang sendiri. Hadir dengan gaya casualnya dan tentu saja didasari kecintaannya terhadap Persib, FCC resmi berdiri pada tahun 2005 yang dipelopori oleh 3 orang pecinta Persib. Karena mempunyai kesamaan hobi dan kecintaan terhadap berbagai hal berbau Inggris atau British, FCC hadir di antara banyak kelompok suporter Persib dan memberikan dukungan positif kepada tim pangeran biru ini. Namun sayangnya kelompol FCC dikabarkan sudah bubar.

Ultras Persib
Kelompok ini tidak pernah berhenti menyanyi mendengungkan yel-yeluntuk mendukung maung bandung selama pertandingan berlangsung. Mereka juga rela berdiri sepanjang pertandingan berlangsung, Selain itu pun para mereka paling senang menyalakan flare atau smoke bomb di dalam stadion karena hal itu didorong untuk mencari perhatian, bahwa mereka hadir berbeda di dalam kerumunan manusia di dalam stadion. Ultras Persib-pun mempunyai beberapa kelompok di dalamnya, dan sekarang digabungkan dengan sebuah nama 'Tifosi Persib'.

http://kapsulpelangsingherbal23.wordpress.com/2014/03/06/obat-pelangsing-tubuh-alami/http://caramenurunkanberatbadan.1naturalremedies.biz/obat-pelangsing-perut-alami/